JawaPos.com–Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon mengembangkan program urban farming terpadu. Itu dilakukan dengan mengombinasikan aktivitas budi daya tanaman, ayam petelur, serta perikanan di lahan sempit.
Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh mengatakan, program tersebut menjadi strategi menghadapi keterbatasan lahan pertanian yang kini tersisa kurang dari 94 hektare di daerahnya. Pihaknya membuat konsep budi daya yang unik untuk menarik minat masyarakat, salah satunya dengan memberi nama pada ayam petelur serta melengkapi pencatatan produksi dan kesehatan ternak.
”Kami memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan kandang agar tetap bersih dan tidak menimbulkan bau, termasuk penggunaan kapur sebagai salah satu cara menjaga lingkungan,” kata Elmi Masruroh dilansir dari Antara.
Baca Juga: Diskominfo Kuningan Tuntaskan Blankspot di 48 Desa
Dia menyampaikan program tersebut dirancang agar mudah diterapkan, tidak rumit, dan tetap nyaman dijalankan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk. Program urban farming ini, mulai diadopsi masyarakat, termasuk di tingkat kelurahan yang membangun kandang ayam petelur secara swadaya melalui iuran warga setelah mendapat pendampingan dari DKP3.
”Kami terus melakukan pendampingan melalui petugas lapangan, mulai dari pemberian pakan, perawatan, hingga vaksinasi dan pengobatan ternak,” ungkap Elmi Masruroh.
Elmi menuturkan terdapat kelompok binaan peternak ayam petelur di Kelurahan Kalijaga dan Argasunya, masing-masing dengan sekitar 600 ayam dari bantuan Kementerian Pertanian yang kini telah berproduksi setiap hari.
Baca Juga: Disdukcapil Sebut Realisasi IKD di Kota Cirebon Lampaui Target
Selain itu, pihaknya mengembangkan proyek percontohan skala kecil dengan 17 ayam petelur yang dikelola secara swadaya oleh internal pegawai DKP3 untuk memahami langsung kendala di lapangan.
”Dari 17 ekor ayam bisa menghasilkan hingga 17 butir telur per hari, bahkan pernah mencapai produksi penuh,” ujar Elmi Masruroh.
Dia menyebutkan biaya awal pengembangan skala rumah tangga berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sudah termasuk kandang, ayam, dan pakan awal, sehingga relatif terjangkau bagi masyarakat.
”Hasil produksi telur tidak hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga dapat dijual, sementara limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman dalam sistem pertanian terpadu,” tutur Elmi Masruroh.
Elmi menambahkan program ini pun mulai diterapkan di sejumlah lokasi di Kota Cirebon, karena sudah ada kelompok binaan yang saat ini telah memiliki tanaman hortikultura, kolam ikan, dan akan ditambah ayam petelur.
”Hasil panen kelompok binaan juga dipasarkan melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM), sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat,” ucap Elmi Masruroh.
Baca Juga: Disbudpar Cirebon Evaluasi Pembongkaran Jembatan Kereta Zaman Belanda
Editor : Latu Ratri Mubyarsah