JawaPos.com–Pemerintah Kota Cirebon menghadirkan program Gapura Pangan sebagai langkah strategis menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan daerah. Hal itu dilakukan melalui kolaborasi pelaku usaha lintas wilayah.
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Cirebon Sumanto mengatakan, program ini sejalan dengan program prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga di tingkat daerah.
”Kota Cirebon bukan daerah sentra produksi, sehingga untuk mewujudkan ketahanan pangan diperlukan kerja sama dengan wilayah lain yang menjadi produsen,” kata Sumanto seperti dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan pemerintah daerah telah menetapkan Peraturan Wali Kota Cirebon (Perwali) tentang Fasilitasi Distribusi Pangan 2025, yang menjadi dasar pelaksanaan kerja sama antar daerah. Regulasi itu mengatur distribusi, ketersediaan, dan subsidi biaya logistik bahan pangan strategis.
Menurut dia, Kota Cirebon tidak memiliki produksi unggulan seperti beras, jagung, telur, atau sayuran, sehingga bergantung pada pasokan dari luar daerah. Oleh karena itu, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon menerapkan upaya kolaboratif ini untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terjamin.
”Walaupun bukan daerah produksi, kami bisa mewujudkan ketahanan pangan dengan menjalin kerja sama antar wilayah,” ujar Sumanto.
Sementara itu, Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh menjelaskan program Gapura Pangan difokuskan pada kolaborasi antar pelaku usaha pangan lokal, dengan kelompok tani dan distributor dari daerah penghasil seperti Indramayu dan sekitarnya. Sekitar 96 persen kebutuhan pangan masyarakat Cirebon masih dipasok dari luar daerah, sementara produksi beras lokal hanya di bawah 1.000 ton per tahun.
”Kami membuka peluang distribusi pangan melalui kolaborasi antar pelaku usaha untuk memperkuat ketahanan pangan Kota Cirebon,” papar Elmi Masruroh.
Sebagai tahap awal, DKP3 telah memfasilitasi penandatanganan perjanjian kerja sama antara Warung Peduli Inflasi (Waduli) dan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KMP) Kecapi, dengan Gapoktan Sri Makmur di Indramayu untuk pasokan beras premium.
”Kerja sama serupa akan dikembangkan untuk komoditas telur, daging ayam, cabai, dan bawang,” terang Elmi Masruroh.
Elmi mengatakan telah disiapkan pula, skema subsidi biaya angkut dan kemasan agar produk hasil kerja sama dapat dijual di bawah harga pasar. Program ini terintegrasi dengan Waduli Kota Cirebon yang ditugaskan menjadi unit distribusi bahan pangan strategis, termasuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog.
”Melalui model kerja sama Business to Business (B2B), rantai pasok dapat dipangkas, harga lebih efisien, dan pasokan bahan pokok lebih terjamin,” ucap Elmi Masruroh.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah