JawaPos.com–Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meresmikan sumur bor di Desa Jayamulya, Kabupaten Indramayu. Hal itu sebagai bagian upaya pemerintah mengatasi potensi krisis air bersih karena kekeringan.
”Kita sudah melaksanakan pembangunan beberapa titik sumur bor sebagai upaya pencegahan karena sebentar lagi ini masuk masa kemarau dan masyarakat di Kabupaten Indramayu tentu saja akan banyak yang membutuhkan pasokan air bersih,” ujar Kepala BNPB Suharyanto seperti dilansir dari Antara.
Dia menyampaikan pembangunan sumur bor yang dilaksanakan BNPB secara bertahap. Total ada delapan titik di wilayah Indramayu. Adapun anggarannya mencapai Rp 3,3 miliar bersumber dari anggaran Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.
Pengerjaan sumur bor tersebut diakukan bekerja sama dengan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu. Empat titik tahap pertama senilai Rp 1,65 miliar berlokasi di Kecamatan Eratan sedangkan empat titik lainnya pada tahap kedua salah satunya berlokasi di Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya.
”Dan ini adalah salah satu bentuk yang kita siapkan untuk meningkatkan fase pencegahan sebelum terjadi bencana,” tutur Suharyanto.
Suharyanto mengatakan, upaya pencegahan dinilai tidak kalah penting dengan penanggulangan bencana pada fase tanggap darurat. Pencegahan optimal sebelum terjadinya bencana dapat menekan risiko sekaligus dampak yang terjadi dari sebuah bencana, yang harus ditingkatkan di setiap daerah.
”Penanggulangan bencana tidak hanya saat terjadi bencana tapi sebelum bencana terjadi. Inilah yang harus ditingkatkan. Kita harus terus meningkatkan upaya pencegahan salah satunya melalui pembuatan sumur bor sebelum terjadinya bencana kekeringan,” jelas Suharyanto.
Sumur bor yang dibangun berjenis sumur bor dalam atau artesis dengan kedalaman 120 hingga 130 meter. Sumur bor tersebut dilengkapi mesin pompa dengan kapasitas air dapat menampung hingga 5.000 liter.
Sumur yang dibuat tersebut nantinya dapat memenuhi kebutuhan air kurang lebih hingga 1.200 Kepala Keluarga (KK) atau 4.200 jiwa. Program sumur bor itu diharapkan bisa menjadi solusi jangka menengah untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, terutama saat musim kemarau dalam beberapa tahun terakhir memicu terjadinya bencana kekeringan di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Indramayu.
Selain Indramayu, lanjut dia, pembuatan sumur bor oleh BNPB juga akan dilaksanakan di wilayah lain di Jawa Barat yakni di Subang dan Cirebon. Tidak hanya delapan titik, Kepala BNPB juga tidak menutup kemungkinan akan menambah jumlah titik pembuatan sumur bor di Indramayu setelah menampung aspirasi dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Kabupaten Indramayu menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang sering dilanda bencana kekeringan saat musim kemarau. Salah satu kekeringan yang terjadi melanda Indramayu pada pertengahan 2024 mengakibatkan 700 hektare sawah terdampak dan masyarakat kesulitan mengakses air bersih guna memenuhi kebutuhan setiap hari.
Hal tersebut diakui warga Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya, Arsini. Di mengatakan, daerah Kroya menjadi salah satu terdampak kekeringan setiap tahun, warga pun kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan.
”Yang paling parah itu 2023 dan 2024, sehingga ada kegagalan panen juga buat masyarakat di sini. Sehingga itu berdampak pada masyarakat yang susah mendapat air dan dengan adanya bantuan sumur bor dari pemerintah ini kami bersyukur sekali jadi masyarakat lebih mudah dapat air dan ke depan harapannya kami tidak kekurangan air,” kata Arsini.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah