Jawapos.com – Cirebon terletak di pesisir utara Jawa Barat dan sering kali diperdebatkan apakah termasuk suku Sunda atau Jawa. Secara geografis, Cirebon berada di wilayah Jawa Barat, yang merupakan bagian dari tanah Sunda. Namun, masyarakat Cirebon menggunakan bahasa yang mencerminkan pengaruh kedua budaya tersebut, seperti bahasa Cirebon yang memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Jawa.
Asal-usul nama Cirebon berasal dari kata "Caruban" yang berarti campuran. Asal nama ini mencerminkan keragaman etnis dan budaya yang ada di daerah ini. Sejarah Cirebon dimulai pada abad ke-15 dengan pendirian Kesultanan Cirebon oleh Pangeran Cakrabuana, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Pengaruh Islam melalui Sunan Gunung Jati juga berperan dalam identitas budaya Cirebon, sehingga menjadikannya pusat penyebaran Islam di Jawa.
Cirebon memiliki pelabuhan penting yang menjadikannya pusat perdagangan dan interaksi budaya. Hal ini menyebabkan akulturasi budaya dengan berbagai etnis, termasuk Melayu, Arab, dan Tionghoa. Oleh karena itu, masyarakat Cirebon dikenal dengan logat unik dalam berbahasa, baik dalam bahasa Sunda maupun Jawa, yang membedakan mereka dari daerah lain.
Dilansir dari kotacirebon.org, dari segi identitas, orang Cirebon sering merasa berada di antara dua dunia. Mereka dianggap terlalu Sunda untuk disebut Jawa dan sebaliknya. Di dalam masyarakat, ada percampuran kosakata dan praktik bahasa yang membuat identitas mereka semakin unik.
Lantaran posisinya di Jawa Barat, budaya Sunda tidak lepas dari kehidupan masyarakat Cirebon. Bahasa Sunda, misalnya, masih digunakan oleh sebagian penduduk terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah Parahyangan, kawasan yang kental dengan budaya Sunda. Beberapa adat dan tradisi Sunda, seperti seni bela diri pencak silat dan musik gamelan degung, juga dapat ditemukan di Cirebon, meskipun telah mengalami adaptasi.
Di sisi lain, budaya Jawa juga memiliki tempat penting di Cirebon. Kota ini memiliki keraton-keraton yang mengikuti tradisi Jawa, seperti Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Di dalam keraton, berbagai upacara adat dan seni pertunjukan seperti wayang kulit dan tarian klasik Jawa tetap lestari hingga sekarang. Bahasa Jawa Cirebon yang dikenal dengan "bahasa Cirebon" atau "Jawareh" juga berkembang sebagai bahasa sehari-hari masyarakat, yang unik dan berbeda dari bahasa Jawa di Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Kesenian tradisional di Cirebon, seperti tarling dan sintren, merupakan bukti lain dari campuran budaya Sunda dan Jawa. Tarling adalah jenis musik yang menggabungkan gitar (tar) dan suling (ling), dengan lirik yang sering kali berbahasa Cirebon. Sintren sendiri merupakan sebuah pertunjukan tari yang kental dengan nuansa mistis yang juga memiliki unsur budaya Jawa dan Sunda. Keunikan ini membuat kesenian Cirebon berbeda dan menonjol dari kesenian di wilayah Sunda maupun Jawa.
Upacara adat di Cirebon juga mencerminkan perpaduan budaya. Misalnya, upacara Grebeg Syawal yang diadakan di keraton Cirebon menunjukkan elemen Jawa dalam pelaksanaannya, sementara upacara Nadran, yang merupakan tradisi sedekah laut oleh para nelayan, lebih mencerminkan budaya pesisir dan pengaruh Sunda. Kombinasi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Cirebon menghargai keduanya.
Sebagai kota yang menjadi pusat penyebaran Islam, identitas keagamaan di Cirebon juga sangat kuat. Masjid Agung Sang Cipta Rasa di kompleks Keraton Kasepuhan, misalnya, menunjukkan arsitektur yang merupakan gabungan gaya Jawa, Sunda, dan bahkan pengaruh Hindu-Buddha.
Beberapa ahli budaya dan sejarah berpendapat bahwa Cirebon sebaiknya tidak dikategorikan secara ketat sebagai Sunda atau Jawa, melainkan sebagai budaya yang mandiri. Cirebon dianggap sebagai percampuran budaya atau bahkan sebagai identitas hibrida yang unik dan mandiri. Pandangan ini menganggap bahwa Cirebon memiliki kekayaan budaya tersendiri yang berbeda dari Sunda maupun Jawa. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah