JawaPos.com - Terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Batu Luhur adalah destinasi wisata alam yang memanjakan mata dan jiwa. Dikelilingi oleh hijaunya pepohonan dan udara yang sejuk, tempat ini menjadi pelarian sempurna dari rutinitas sehari-hari.
Batu Luhur menawarkan pesona bebatuan unik, panorama perbukitan yang menakjubkan, dan suasana damai yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota. Sangat cocok untuk kamu yang suka dengan suasana yang tenang dan juga segar.
Dilansir dari visitcirebon.id (11/12), nama Batu Luhur diberikan karena terdapat banyak batu besar yang menjulang tinggi, yang dalam bahasa Sunda disebut "luhur" yang berarti "tinggi". Dahulu, destinasi wisata ini kurang layak untuk dikunjungi, namun kemudian diperbaiki oleh kelompok Pujanggamanik bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Tempat ini kini menjadi pilihan favorit wisatawan yang mencari udara segar dan suasana sejuk, seperti yang dilaporkan oleh itrip.id (11/12). Banyak juga anak muda yang tertarik mengunjungi Batu Luhur karena adanya berbagai spot foto menarik.
Menurut akun Instagram @batuluhurkuningan (11/12), Batu Luhur juga menawarkan bukit dengan padang rumput luas, tempat yang ideal untuk mendirikan tenda atau berkemah. Di malam hari, pengunjung dapat menikmati pemandangan langit yang dipenuhi bintang-bintang yang indah.
Selain berkemah, ada berbagai aktivitas seru yang bisa dilakukan di Batu Luhur, seperti outbound, flying fox sepanjang 200 meter, kolam renang, bersepeda di trek, dan menikmati hidangan di kafetaria yang tersedia, seperti yang dilaporkan turisian.com (11/12).
Superlive.id (11/12) menyarankan untuk mengunjungi Batu Luhur pada malam hari untuk merasakan keindahan bintang dan udara sejuk yang bisa membuat pengunjung merasa lebih tenang dan jauh dari stres.
Destinasi wisata Batu Luhur memang menjadi tempat yang sangat populer, terutama di kalangan anak muda yang ingin melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kota. Tempat ini benar-benar layak disebut sebagai surga kecil, dengan alam dan suasana yang menenangkan.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah