Dilansir dari Everyday Health, seorang dokter spesialis psikiatri di Columbia, New York, putus cinta bisa memicu berbagai emosi, seperti malu, marah, bersalah, kecewa, sedih, bahkan lega dan senang.
Sementara menurut psikolog klinis dr. Guy Winch, fase ini lebih sering melibatkan perasaan sedih, marah, dan kebingungan. Ia menekankan pentingnya memahami emosi yang muncul setelah putus cinta.
Maka dari itu, perlu dipahami fase-fase life after breakup agar bisa lebih mudah menjalaninya.
1. Fase Shock dan Penyangkalan
Fase awal setelah putus cinta sering ditandai dengan keterkejutan dan penyangkalan. Menurut dr. Elisabeth Kübler-Ross pada Majalah Forbes, ini adalah mekanisme alami untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Pada tahap ini, seseorang mungkin sulit menerima kenyataan bahwa hubungan telah berakhir. Psikolog menyarankan untuk memberikan waktu pada diri sendiri untuk mencerna situasi.
Tidak lama setelah itu, sebelum fase peralihan pada tingkat kedua, seseorang akan menganalisis hubungan dan mencari alasan mengapa hubungan berakhir. Psikolog klinis dr. Terri Orbuch menyebut ini sebagai tahap refleksi.
2. Fase Kesedihan Mendalam
Kesedihan adalah reaksi normal setelah kehilangan, termasuk dalam hubungan. dr. Jennice Vilhauer kepada Psychology Today menjelaskan bahwa menangis atau merasa sedih adalah bagian dari proses penyembuhan. Hal itu sangat normal bahkan jika seseorang membutuhkan waktu sangat lama untuk memproses dan manjalani fase ini.
Namun, dibanding terus menekan emosi negatif dan membiarkannya berlarut-larut yang mana hal itu dapat memperlambat pemulihan, dokter merekomendasikan untuk mencari dukungan dari keluarga atau teman dekat. Meluapkan emosi dengan meminta masukan atau mencari pendengar adalah hal yang sangat baik dan disarankan.
Selain itu, daripada terjebak dalam penyesalan, gunakan waktu ini untuk belajar dari pengalaman. Tuliskan pelajaran yang bisa diambil dari hubungan tersebut.
3. Fase Marah dan Frustrasi
Perasaan marah sering muncul, baik terhadap diri sendiri maupun mantan pasangan. Menurut psikoterapis Megan Bruneau, ini adalah respons alami terhadap perasaan kehilangan kendali.
Untuk mengelola kemarahan, Bruneau menyarankan aktivitas fisik seperti olahraga atau meditasi. Hal ini membantu menyalurkan emosi secara sehat agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kesedihan. Selain olahraga dan meditasi, anda juga bisa menikmati alam seperti pergi ke pantai, air terjun, atau mendaki gunung sebagai proses refreshing.
4. Fase Menerima dan Melanjutkan Hidup
Tahap terakhir adalah menerima kenyataan dan mulai melanjutkan hidup. Di saat seseorang mulai merasakan ikhlas untuk melepas dan mau mengambil sisi positif dari kejadian di masa lalu, maka mereka akan mulai menetapkan tujuan baru dan fokus pada hal-hal yang membangun diri.
Membangun kembali rasa percaya diri adalah langkah penting untuk memulai lembaran baru. Aktivitas seperti belajar hal baru atau menjalani hobi bisa sangat membantu.
Tips dari Psikolog untuk Mengatasi Patah Hati
Dilansir dari The Every Girl, psikolog menyarankan beberapa langkah praktis untuk memulihkan diri dari patah hati. Langkah pertama adalah menghindari kontak dengan mantan selama proses penyembuhan.
Walaupun akan sangat sulit, terutama ketika malam datang dan rasa untuk menghubungi mantan kekasih lebih menggebu-gebu, cobalah sebisa mungkin untuk mengingat alasan mengapa kalian memutuskan untuk berpisah.
Anda juga bisa mencoba untuk mengambil napas dalam-dalam kemudian menuliskan di buku jurnal apa yang anda tidak sukai pada hubungan kemarin. Walaupun terkesan buruk, namun hal ini akan sangat membantu.
Langkah kedua menurut dr. Antonio Pascual-Leone, seorang psikolog klinis, adalah mengizinkan diri merasakan semua emosi yang muncul, seperti sedih dan kesepian. Dalam Ted Talk-nya, How to Get Over The End of a Relationship, ia menjelaskan bahwa menghindari perasaan justru memperpanjang proses pemulihan. Merasakan dan memahami emosi ini membantu mengatasi rasa kehilangan dengan lebih sehat, tanpa menekan atau memendam perasaan dalam jangka panjang.
Langkah berikutnya adalah mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam hubungan tersebut. dr. Pascual-Leone menyarankan untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya dicari dari hubungan itu, seperti perasaan dihargai atau dicintai. Dengan memahami kebutuhan ini, seseorang dapat mulai memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri, yang penting untuk pertumbuhan pribadi dan hubungan yang lebih sehat di masa depan.
Tips selanjutnya adalah dengan fokus pada diri sendiri, seperti mengeksplorasi hobi atau aktivitas yang sempat tertunda, dapat membantu proses pemulihan. Hal ini didorong oleh faktor kesibukan yang membuat seseorang jadi tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal yang menimbulkan rasa sakit dan sedih. Lampiaskan amarah pada hal-hal positif dan bahagiakan diri sendiri. Melihat masa depan dengan optimisme adalah kunci untuk benar-benar bangkit.
Editor : Candra Mega Sari