JawaPos.com–Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon memasifkan vaksinasi massal untuk menekan lonjakan kasus campak. Terutama di empat kecamatan yang telah ditetapkan sebagai zona Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni mengatakan, saat ini telah melaksanakan vaksinasi massal melalui program catch up campaign (CUC) yang menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan. Program tersebut bertujuan mengejar ketertinggalan imunisasi dasar sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap penularan campak di masyarakat.
”Capaian vaksinasi CUC saat ini sudah mencapai 95 persen, dan ini menjadi modal penting untuk membentuk kekebalan kelompok,” ujar Eni Suhaeni dilansir dari Antara.
Baca Juga: Pemkab Cirebon Kaji Pemanfaatan Limbah Kerang Jadi Paving Block
Dia mengatakan langkah intervensi difokuskan pada wilayah dengan kasus tertinggi agar penyebaran tidak meluas. Misalnya empat kecamatan zona KLB yakni Mundu, Sumber, Ciwaringin, dan Greged.
Dinkes mendata hingga minggu ke-15 pada 2026, di Kecamatan Greged dan Ciwaringin masing-masing ditemukan 33 kasus suspek, dengan tujuh serta sembilan kasus terkonfirmasi positif.
”Untuk Kecamatan Mundu mencatat 29 kasus suspek dengan dua kasus positif, sedangkan Kecamatan Sumber terdapat 24 kasus suspek dengan lima kasus positif,” terang Eni Suhaeni.
Baca Juga: Tim Gabungan Sita 150 Ribu Batang Rokok Ilegal di Majalengka
Eni menegaskan, hingga saat ini tidak terdapat laporan kematian akibat campak di Kabupaten Cirebon, meskipun pemantauan terus dilakukan secara ketat. Selain itu, Dinkes telah menyiapkan program Outbreak Response Immunization (ORI) yang menyasar kelompok usia lebih luas, mulai dari 9 bulan hingga 13 tahun.
Dia menambahkan, ada tujuh kecamatan lain di Cirebon untuk pelaksanaan ORI sebagai langkah antisipasi karena tingginya mobilitas Masyarakat. Selain itu, capaian imunisasi campak-rubella yang masih di bawah 80 persen dalam lima tahun terakhir.
”Kami ingin memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan optimal. ORI ini menjadi langkah lanjutan agar penularan bisa ditekan semaksimal mungkin,” ucap Eni Suhaeni.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah