Anggota DPR: Inovasi Garam Kristal di Indramayu Layak Dikembangkan

JawaPos.com–Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri menyebutkan inovasi produksi garam kristal oleh petani di Desa Juntinyuat, Indramayu, layak dikembangkan secara luas. Sebab berpotensi meningkatkan produktivitas dan kualitas garam.
”Buat saya ini terobosan yang bagus. Selama ini produksi garam dengan metode penguapan biasa produktivitasnya hanya sekitar 70 ton per hektare per tahun,” kata Rokhmin seperti dilansir dari Antara di Indramayu.
Dia mengatakan pemerintah sebelumnya telah mengembangkan sejumlah teknologi produksi garam, seperti geomembran dan teknik ulir. Teknologi itu mampu meningkatkan produktivitas hingga sekitar 120 ton per hektare per tahun.
Rokhmin menilai inovasi yang dikembangkan di desa tersebut, berpotensi terus berkembang karena mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku usaha garam. Penerapan teknologi serupa di Indonesia masih terbatas dan baru ditemukan di beberapa wilayah di Indramayu, seperti Losarang dan Krangkeng.
”Kalau di negara maju, pemerintah itu mempertemukan inovator dengan industrinya. Jadi hasil penelitian bisa berkembang menjadi inovasi yang dipakai secara luas,” beber Rokhmin Dahuri.
Banyak hasil penelitian, kata dia, berhenti pada tahap invensi dan belum berkembang menjadi inovasi teknologi karena lemahnya proses komersialisasi. Atas dasar tersebut, pihaknya menyarankan agar pemerintah perlu memperkuat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi masyarakat tidak berhenti pada tahap prototipe semata.
”Nanti saya sampaikan ke dirjen dan menteri supaya jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kalau tidak dibantu, inovasi seperti ini bisa tidak berkembang,” tutur Rokhmin Dahuri.
Sementara itu, Ketua Koperasi SAE Nalendra Darma Raga Carmadi menjelaskan, proses produksi garam kristal di desanya, dilakukan melalui tahap penyaringan dan pengendapan air garam di dalam tunnel yang terintegrasi dengan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Setiap tunnel memiliki ukuran panjang 25 meter, lebar 4 meter, dengan tinggi air sekitar 20 sentimeter.
”Dalam satu jam, sistem SWRO mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air, yang kemudian menjadi sekitar 1.000 liter bahan kristalisasi setelah melalui proses penyaringan dan pembersihan,” terang Carmadi.






