Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Gua Hira, Saksi Bisu Tempat Turunnya Wahyu Pertama Rasulullah SAW

Fawwaz Ralli Perdana • Minggu, 15 Juni 2025 | 19:30 WIB
Suasana pendakian menuju Gua Hira di puncak Jabal Nur yang penuh perjuangan dan sarat makna sejarah (Dok. kemenag.go.id)
Suasana pendakian menuju Gua Hira di puncak Jabal Nur yang penuh perjuangan dan sarat makna sejarah (Dok. kemenag.go.id)

JawaPos.com - Gua Hira di Jabal Nur terus menjadi magnet bagi jutaan Muslim dari seluruh dunia yang ingin menapak tilas jejak kenabian Rasulullah SAW. Meski ketinggiannya hanya sekitar 600 meter, perjalanan menuju gua tersebut tetap membutuhkan perjuangan fisik yang tidak ringan.

Tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah berkesempatan melakukan ziarah religi ke Gua Hira, Sabtu (14/6/2025), dipandu langsung oleh pakar sejarah Islam, Oman Fathurahman. Perjalanan dimulai sejak dini hari dari kaki Jabal Rahmah, menapaki ribuan anak tangga yang terjal.
 
Dilansir dari kemenag.go.id, sekitar pukul 04.00 WAS, tim berhasil mencapai puncak Jabal Nur. Di puncak ini, ratusan jamaah dari berbagai negara tampak mengantre untuk memasuki lorong sempit menuju Gua Hira, tempat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama.
 
Baca Juga: Ketua PP Muhammadiyah: Petugas Haji Indonesia Tangguh, Semangat Pelayanan Luar Biasa
 
Gua Hira sangat kecil, hanya cukup untuk 2–3 orang. Di dalamnya terdapat batu sepanjang satu meter yang diyakini menjadi tempat Rasulullah beristirahat selama menjalani khalwat selama sebulan penuh.
 
Oman Fathurahman menjelaskan, Jabal Nur memiliki tiga nama: Jabal Al-Quran, Jabal Islam, dan Jabal Nur. Nama Jabal Al-Quran merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama, QS Al-Alaq ayat 1-5, melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
 
Selain itu, disebut Jabal Islam karena dari sinilah awal mula lahirnya agama Islam, yang kemudian membawa perubahan besar bagi peradaban manusia, khususnya masyarakat Quraisy yang kala itu hidup dalam budaya jahiliyah.
 
Sedangkan nama Jabal Nur, yang berarti "Gunung Cahaya", menandakan pancaran cahaya Islam yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. "Dari tempat ini lah tersebar cahaya ke seluruh dunia," ujar Oman.
 
Mendaki Jabal Nur bukan perkara mudah. Oman mengingatkan kembali bagaimana Siti Khadijah RA setiap hari menaiki gunung ini untuk mengantarkan makanan bagi Rasulullah. Itu merupakan bukti kecintaan dan pengorbanan luar biasa.
 
Ia menambahkan, kebesaran Islam yang kita rasakan kini bermula dari ruang gua yang sempit namun penuh makna. Bahkan saat ini, dengan fasilitas tangga dan tempat istirahat sekalipun, banyak peziarah tetap merasa kelelahan mendaki.
 
Menurut Oman, Gua Hira ini mengajarkan bahwa untuk meraih kemuliaan dan kebesaran dibutuhkan perjuangan yang berat dan tidak instan. Rasulullah mendaki gua ini setiap hari selama sebulan untuk berkhalwat sebelum menerima wahyu.
 
Keistimewaan lainnya, Gua Hira menghadap langsung ke arah Kakbah. Hal ini, menurut Oman, menjadi pengingat pentingnya kiblat dalam ajaran Islam sebagai pusat orientasi ibadah umat Muslim.
 
Oman juga menjelaskan bahwa meski ziarah ke Gua Hira tidak termasuk rukun haji, kegiatan ini menjadi bagian dari unsur ziarah, salah satu dari empat unsur yang biasa dilakukan jamaah haji selain ibadah, tijarah (perdagangan), dan rihlah ilmi (perjalanan ilmu).
 
Area sekitar Gua Hira kini juga dilengkapi taman wisata religi yang menyediakan toko oleh-oleh, kafe, serta penyewaan onta untuk berfoto. Semua fasilitas ini memberikan kenyamanan tambahan bagi para peziarah setelah menempuh pendakian yang melelahkan.
 
Oman mengimbau jamaah yang ingin mendaki Jabal Nur untuk mempersiapkan kondisi fisik secara optimal. Ia juga mengingatkan agar tidak mencoret-coret batu, tidak mengambil batu sebagai jimat, serta tidak melakukan salat di dalam gua karena dapat mengganggu peziarah lain.
 
Baca Juga: 393 Jemaah Kloter JKG 01 Tiba di Tanah Air, Menag Ingatkan Pentingnya Menjaga Kemabruran Haji
Editor : Candra Mega Sari
#gua hira #wahyu pertama #ziarah #Rasulullah SAW