Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Mengenal Tradisi Saptonan, Lomba Ketangkasan Menunggang Kuda dan Melempar Tombak

Lania Monica • Jumat, 4 Oktober 2024 | 17:54 WIB
Tradisi Saptonan. (Pemkab Kuningan)
Tradisi Saptonan. (Pemkab Kuningan)

JawaPos.com–Tradisi Saptonan di Kabupaten Kuningan adalah salah satu warisan budaya yang masih hidup dan terus dilestarikan hingga kini. Acara ini biasanya diadakan setiap tahun untuk merayakan Hari Jadi Kuningan, menjadi bagian penting dari perayaan tersebut.

Saptonan adalah lomba ketangkasan menunggang kuda sambil melempar tombak ke dalam ember yang digantung, dengan tujuan tidak menumpahkan air dari dalam ember. Meski awalnya hanya diikuti kalangan bangsawan dan pejabat, kini tradisi ini terbuka untuk masyarakat umum yang memiliki kuda, sehingga lebih inklusif dan menjadi daya tarik bagi semua lapisan masyarakat.

Sejarah Saptonan bermula pada masa Kerajaan Kajene, ketika Adipati Ewangga memerintah Kuningan. Pada zaman itu, acara ini merupakan bagian dari ritual persembahan hasil bumi (seba upeti) kepada raja, di mana para kepala desa dan pejabat kerajaan menunjukkan ketangkasan mereka berkuda sebagai wujud ketaatan dan penghormatan kepada raja. Kegiatan ini juga melambangkan heroisme dan patriotisme, menggambarkan semangat perjuangan serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyat.

Acara Saptonan tidak hanya terbatas pada perlombaan, tetapi juga diiringi dengan parade budaya yang menampilkan seni dan tradisi khas Kuningan. Penampilan parade prajurit, tari-tarian adat, serta atraksi panahan tradisional juga menghiasi rangkaian acara, menciptakan suasana yang penuh dengan nuansa sejarah dan budaya.

Musik gamelan Sunda, pakaian adat, dan penampilan tokoh-tokoh kerajaan yang dirias khusus untuk acara ini semakin menambah khidmat dan kemegahan pergelaran Saptonan. Menariknya, dalam perkembangan zaman, Saptonan tidak hanya menjadi ajang ketangkasan fisik, tetapi juga menjadi sarana hiburan bagi masyarakat.

Para peserta kini tidak terbatas pada kepala desa dan pejabat setempat, tetapi siapa saja yang memiliki kemampuan dan kuda dapat ikut serta. Hal ini menjadikan Saptonan lebih populer di kalangan masyarakat umum, dan acara ini pun berhasil menarik perhatian wisatawan lokal hingga internasional.

Saptonan menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga upaya untuk melestarikan warisan leluhur bagi generasi muda. Pemerintah setempat berperan aktif dalam memastikan bahwa tradisi ini terus berlanjut, sekaligus mempromosikannya sebagai salah satu daya tarik wisata daerah. Dengan kemasan yang lebih modern dan atraktif, Saptonan diharapkan mampu mendatangkan wisatawan yang dapat meningkatkan perekonomian lokal.

Tidak hanya melibatkan ketangkasan fisik, Saptonan juga mengajarkan pentingnya persiapan dan seleksi dalam memilih kuda yang tepat. Kuda yang dipilih untuk perlombaan harus terlatih, lincah, dan mampu merespons irama gamelan dengan baik. Selain itu, peserta juga dinilai berdasar pakaian adat dan hiasan pada kuda, yang menjadi bagian penting dari estetika lomba. Ini menunjukkan bahwa tradisi Saptonan tidak hanya mengedepankan keahlian berkuda, tetapi juga penghargaan terhadap budaya lokal.

Meski terlihat mudah, tidak semua peserta bisa menaklukkan tantangan dalam perlombaan ini. Kuda yang sulit dikendalikan atau arah lemparan tombak yang meleset sering membuat peserta gagal memasukkan tombak ke dalam ember, bahkan menyebabkan air dalam ember tumpah dan membasahi mereka. Momen ini selalu menjadi sorotan penonton yang meramaikan suasana dengan sorakan dan tawa, menambah kegembiraan dalam acara.

Tradisi Saptonan yang kini menjadi agenda tahunan di Kuningan juga telah mengalami modernisasi dalam penyelenggaraannya. Selain mempertahankan esensi tradisi, panitia berupaya memberikan sentuhan baru yang relevan dengan perkembangan zaman, menjadikannya lebih menarik bagi generasi muda dan wisatawan. Dengan demikian, Saptonan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga cermin dari identitas masyarakat Kuningan yang tetap mempertahankan warisan leluhur dalam era modern.

Sebagai warisan leluhur, Saptonan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kebersamaan, semangat juang, serta hubungan harmonis antara pemerintah dan rakyat. Tradisi ini, selain sebagai hiburan, juga menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kuningan yang harus terus dilestarikan agar tidak tergerus oleh arus modernisasi.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#kuningan #kuda #warisan budaya #tradisi