Keterlambatan Pematangan Otak: Hubungan antara Genetika dan Gangguan Makan
Aunur Rahman• Rabu, 22 Januari 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi makan. (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Perkembangan otak manusia, terutama pada masa remaja, adalah proses yang rumit dan melibatkan perubahan pada struktur dan fungsi otak. Salah satu hal yang penting dalam proses ini adalah pematangan korteks, bagian luar otak yang mengatur fungsi kognitif tingkat tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan hubungan antara keterlambatan pematangan otak dengan peningkatan risiko gangguan makan pada remaja.
Penelitian yang dilaporkan oleh Neuroscience News pada Selasa (21/1) mengungkapkan bahwa proses penipisan korteks, yang biasanya terjadi selama masa remaja, berlangsung lebih lambat pada remaja yang mengalami gangguan makan. Penipisan korteks adalah bagian dari pematangan otak, di mana koneksi yang tidak efisien dihapus untuk meningkatkan efisiensi dalam memproses informasi.
Profesor Sylvane Desrivières, seorang Profesor Psikiatri Biologis di King's IoPPN dan penulis utama penelitian tersebut, menyatakan, "Temuan kami menunjukkan potensi manfaat dari peningkatan pendidikan yang fokus pada pengelolaan kebiasaan makan yang tidak sehat dan strategi penanganan yang kurang adaptif. Ini bisa berperan penting dalam mencegah gangguan makan serta mendukung kesehatan otak secara keseluruhan."
Para peneliti menemukan dua pola perilaku makan yang berbeda, yaitu perilaku makan restriktif dan perilaku makan emosional/tidak terkontrol. Remaja dengan perilaku makan restriktif cenderung melakukan diet secara konsisten, sementara remaja dengan perilaku makan emosional/tidak terkontrol lebih mungkin mengalami binge eating atau makan berlebihan, terutama selama masa pubertas.
Keterlambatan pematangan otak ini diduga berkaitan dengan faktor genetik dan mental yang memengaruhi perilaku makan seseorang. Faktor genetik dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak, sementara faktor mental seperti stres dan kecemasan dapat memicu perilaku makan yang tidak sehat.
Dr. Zuo Zhang, Peneliti di King's IoPPN dan salah satu penulis studi tersebut, mengatakan, "Dengan menunjukkan bahwa perilaku makan tidak sehat yang berbeda terkait dengan lintasan gejala kesehatan mental dan perkembangan otak yang berbeda, temuan kami dapat menginformasikan desain intervensi yang lebih personal.”
Penelitian ini menggunakan data dari sampel besar remaja dan melacak perkembangan mereka hingga dewasa awal. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan dalam pematangan korteks dapat memprediksi jenis gangguan makan yang mungkin dialami seseorang di kemudian hari.
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang kompleksitas gangguan makan dan pentingnya memahami perkembangan otak dalam konteks ini. Pemahaman ini dapat membantu dalam pengembangan strategi pencegahan dan intervensi yang lebih efektif.
Xinyang Yu, mahasiswa PhD di King's IoPPN dan penulis pertama studi tersebut, mengatakan, "Temuan kami mengungkap bagaimana keterlambatan pematangan otak selama masa remaja menghubungkan genetika, tantangan kesehatan mental, dan perilaku makan yang tidak teratur di masa dewasa muda, yang menekankan peran penting perkembangan otak dalam membentuk kebiasaan makan."
Lebih lanjut, penelitian ini menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Stres, kecemasan, dan masalah emosional lainnya dapat berkontribusi pada munculnya gangguan makan. Oleh karena itu, dukungan psikologis dan intervensi sejak dini sangat penting untuk mencegah masalah yang lebih serius di masa depan.
Pendekatan yang menyeluruh, yang memperhitungkan faktor biologis, psikologis, dan sosial, sangat dibutuhkan dalam menangani gangguan makan. Kerja sama antara profesional kesehatan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan fisik remaja.
Penelitian ini juga memberikan wawasan penting dalam pemahaman tentang gangguan makan. Dengan memahami akar masalahnya, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk pencegahan dan intervensi.
Penelitian ini, yang didanai oleh Medical Research Foundation, Medical Research Council, dan National Institute for Health and Care Research (NIHR) Maudsley Biomedical Research Centre, menyoroti bagaimana pematangan otak, genetika, dan masalah kesehatan mental saling berinteraksi dalam menyebabkan gejala gangguan makan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pematangan otak yang tertunda dan tidak lengkap pada mereka yang memiliki kebiasaan makan tidak sehat berperan dalam hubungan antara masalah kesehatan mental pada usia 14 tahun dan perkembangan perilaku makan tidak sehat pada usia 23 tahun. Menariknya, hubungan ini tidak terkait dengan indeks massa tubuh (BMI).
Penurunan pematangan otak juga membantu menjelaskan bagaimana risiko genetik terhadap BMI tinggi dapat memengaruhi perilaku makan tidak sehat pada usia 23 tahun.