JawaPos.com - Patah hati bukan hanya soal perasaan. Ternyata, ketika kamu merasa terluka karena hubungan yang berakhir, otak dan tubuhmu juga merasakannya. Rasa sakit emosional ini memicu reaksi fisik yang tak terduga, yang bisa memengaruhi kesehatanmu dalam berbagai cara.
Apa yang terjadi pada otak dan tubuh saat patah hati? Rasa sakit yang kamu rasakan bisa menyebabkan perubahan dalam tubuh yang lebih dari sekadar kesedihan. Dalam beberapa kasus, perasaan itu bisa terasa seperti rasa sakit fisik yang nyata.
Penasaran bagaimana hubungan antara patah hati terhadap otak dan tubuh? Dilansir dari verywellmind.com pada Selasa (26/11), berikut adalah penjelasannya.
Dampak Emosional dari Patah Hati
Patah hati sering kali dimulai dengan perasaan kegagalan dan kekecewaan. Kamu mungkin merasa seolah-olah telah mengecewakan diri sendiri, berpikir bahwa jika kamu lebih baik, hubungan itu tidak akan berakhir. Perasaan ini bisa sangat mengganggu, membuatmu merasa kehilangan bagian dari dirimu sendiri, seolah-olah kamu harus mengumpulkan potongan-potongan dirimu yang hilang.
Emily Mashburn, seorang terapis spesialis trauma hubungan, menjelaskan bahwa patah hati dapat mempengaruhi kita secara emosional, psikologis, bahkan fisik. Secara emosional, perasaan yang muncul seperti penolakan, kesedihan, dan rasa sakit sangat umum. Meskipun ini adalah hal yang wajar, proses menghadapinya sambil menjalani kehidupan sehari-hari bisa menjadi sangat sulit.
Menghadapi patah hati bukan hanya soal melupakan seseorang, tapi juga menerima kenyataan bahwa hidupmu berubah. Hal ini bisa membuatmu merasa terperangkap dalam emosi yang bertabrakan. Cobalah untuk memberi dirimu waktu untuk memproses semuanya, meski itu terasa sangat berat.
Dampak Neurologis dari Patah Hati
Patah hati sebenarnya bisa memengaruhi otak dan tubuhmu lebih dari yang kamu kira. Dr. Sabrina Romanoff, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa perasaan kehilangan akibat putus hubungan mirip dengan kehilangan orang yang kita cintai. Secara evolusioner, manusia dirancang untuk membentuk ikatan emosional yang kuat demi kelangsungan hidup. Ikatan ini penting untuk menjaga sistem saraf kita tetap stabil.
Ketika hubungan yang erat berakhir, sistem saraf kita menjadi tidak teratur. Kamu mungkin merasakan kesepian, penolakan, atau bahkan perasaan ditinggalkan yang pada zaman dahulu bisa berhubungan langsung dengan ancaman kematian. Itu sebabnya patah hati bisa terasa sangat intens, bahkan lebih dari sekadar kehilangan orang yang kita cintai.
Grief atau berduka akibat putus hubungan seringkali lebih sulit untuk dipahami secara emosional dan psikologis. Kamu tidak hanya kehilangan pasangan, tapi juga bagian dari hidupmu yang sudah sangat familiar. Menemukan "normal baru" setelahnya bisa menjadi tantangan besar, dan proses berduka ini membutuhkan waktu yang lebih panjang dari yang diperkirakan.
Manifestasi Fisik dari Patah Hati
Patah hati tidak hanya dirasakan di dalam hati, tapi juga di tubuhmu. Emily Mashburn menyebutkan bahwa perasaan emosional akibat putus cinta sering kali disertai dengan gejala fisik. Kamu bisa merasa cemas, mengalami perubahan pola makan dan tidur, bahkan masalah pencernaan, atau kelelahan yang luar biasa. Semua gejala ini muncul bersamaan dengan rasa sakit emosional, menjadikan proses patah hati sangat melelahkan baik secara fisik maupun mental.
Baca Juga: 5 Shio Paling Hoki dan Beruntung dalam Hidup, Berpotensi Kaya Tanpa Harus Banyak Usaha
Dr. Sabrina Romanoff menambahkan, proses berduka akibat patah hati juga sering kali memengaruhi tubuh secara langsung. Kamu bisa merasa gelisah atau tidak bisa diam, dengan aktivitas otak yang meningkat. Sebaliknya, ada juga yang merasa lemas atau tidak berenergi, seolah-olah otaknya dan tubuhnya tidak bisa berfungsi dengan normal.
Gejala fisik ini bisa terasa sangat mengganggu, bahkan mempengaruhi penampilan dan kesehatan jangka panjang. Banyak orang yang mengalami perubahan drastis dalam tubuhnya—seperti rambut yang rontok, berat badan yang turun atau naik drastis, dan perubahan hormonal yang membuat suasana hati semakin tidak stabil. Selain itu, produksi dopamin, hormon kebahagiaan, juga bisa menurun, memperburuk perasaan tertekan yang kamu alami.
Konsekuensi Kesehatan Mental
Menyembuhkan patah hati lebih rumit daripada sekadar "move on". Dr. Romanoff menjelaskan bahwa ada banyak lapisan kehilangan yang harus diproses saat kamu melalui perpisahan. Kamu tidak hanya kehilangan pasangan, tapi juga impian dan masa depan yang pernah kamu bayangkan bersama.
Patah hati juga memaksa kamu untuk kembali ke kehidupan "single", yang mungkin mengungkit banyak hal yang pernah kamu hindari selama berpacaran—seperti masalah karier, pertemanan, atau keluarga. Semua ini bisa menambah tekanan mental yang sudah kamu rasakan.
Selama proses berduka, kamu mungkin akan melewati berbagai tahap, seperti penyangkalan, kemarahan, depresi, dan akhirnya penerimaan. Sering kali, kamu terjebak dalam kenangan hubungan tersebut, baik yang baik maupun yang buruk. Pikiran-pikiran ini bisa terus menghantui dan membuatmu merasa seolah-olah hubungan itu belum benar-benar selesai, yang menghalangimu untuk benar-benar move on.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah