JawaPos.com–Bahasa Cirebon memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dari bahasa Jawa. Meskipun pada pandangan pertama sering dianggap memiliki kemiripan dengan bahasa Brebes dan Tegal.
Dilansir dari laman Majalah Cirebon Katon, perbedaan ini terlihat jelas dari banyaknya kosakata yang berbeda antara bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa pada umumnya.
Menurut penelitian M. Abdul Khak saat menjabat sebagai kepala Bahasa Bandung (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat), terdapat sekitar 75 persen perbedaan kosakata antara bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Jawa Tengah. Bahkan, jika dibandingkan dengan bahasa Jawa Timur, perbedaannya mencapai sekitar 76 persen. Hal itu menunjukkan betapa uniknya bahasa Cirebon dibandingkan dengan bahasa Jawa lainnya.
Selain perbedaan kosakata yang signifikan, bahasa Cirebon juga memiliki beberapa dialek yang membuatnya semakin beragam. Setidaknya ada lima dialek utama yang digunakan masyarakat Cirebon dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing dialek ini memiliki ciri khas tersendiri yang mencerminkan keragaman budaya dan tradisi Cirebon.
Dialek pertama adalah dialek Cirebon asli, yang dikenal karena belum terpengaruh oleh bahasa lain. Dialek ini sangat otentik dan salah satu ciri khasnya adalah penggunaan kata isun untuk merujuk pada kata saya. Dialek ini umumnya digunakan masyarakat yang tinggal di sekitar Keraton Cirebon, sehingga bisa dikatakan dialek ini merepresentasikan bahasa Cirebon yang paling murni.
Selanjutnya, ada dialek Dermayon, yang sering digunakan masyarakat yang tinggal di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. Salah satu keunikan dari dialek ini adalah penggunaan kata reang sebagai pengganti kata isun dalam bahasa Cirebon asli. Dialek Dermayon juga banyak digunakan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, menambah keragaman bahasa di wilayah tersebut.
Kemudian, dialek Plered dan Lor menjadi salah satu dialek yang juga cukup menarik. Dialek ini dikenal karena penuturan vokal o yang sangat khas, misalnya kata sira berubah menjadi siro dan gawa menjadi gawo. Dialek ini biasanya ditemukan pada masyarakat yang tinggal di bagian barat dan utara Cirebon.
Dialek keempat adalah dialek Gegesik, yang umumnya digunakan penduduk Cirebon bagian barat dan utara, khususnya di daerah Kecamatan Gegesik. Dialek ini memiliki intonasi yang lebih halus dibandingkan dengan bahasa Cirebon asli. Selain itu, dialek ini sangat dikenal dalam dunia pewayangan karena banyak dalang Cirebon yang menggunakan dialek Gegesik dalam pertunjukan mereka.
Dialek terakhir adalah dialek Jawareh. Dialek ini adalah hasil perpaduan antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda, sehingga sering digunakan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan seperti Brebes, Kuningan, dan Majalengka. Gabungan ini mencerminkan pengaruh budaya yang beragam di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Keberagaman dialek ini menjadikan bahasa Cirebon sebagai salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga. Bahasa ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi sehari-hari, tetapi juga merupakan cermin dari peradaban Cirebon di masa lampau yang sangat maju dan berpengaruh.
Tidak mengherankan jika eksistensi bahasa Cirebon kini telah diakui secara resmi oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 yang menetapkan bahasa Cirebon sebagai salah satu bahasa daerah yang perlu dilestarikan, selain bahasa Sunda dan Betawi. Peraturan ini menjadi bukti bahwa bahasa Cirebon memiliki nilai budaya yang penting dan patut dijaga keberadaannya.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah