Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Menelusuri Sejarah dan Makna Tradisi Ngarot di Indramayu, Telah Diwariskan secara Turun-temurun

Siti Nahdia Usman • Sabtu, 2 November 2024 | 23:10 WIB
Ilustrasi remaja putri yang mengikuti tradisi Ngarot di Indramayu.
Ilustrasi remaja putri yang mengikuti tradisi Ngarot di Indramayu.

Jawapos.com – Indramayu menyimpan segudang kekayaan budaya yang unik dan menarik. Salah satunya yakni tradisi Ngarot, sebuah upacara adat yang penuh makna dan telah diwariskan secara turun-temurun.

Ngarot adalah tradisi khas di salah satu daerah di Indramayu yang hingga kini masih dipelihara dengan baik oleh masyarakatnya. Pusat pelaksanaan tradisi Ngarot berada di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.

Tradisi Ngarot diadakan setiap tahun pada bulan Desember, tepatnya minggu ke-3 dan selalu dilaksanakan pada hari Rabu. Hari Rabu dipilih karena dianggap sebagai hari keramat yang dapat membawa keberkahan.

Dilansir dari indramayukab.go.id, tradisi Ngarot memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari kehidupan agraris masyarakat Indramayu. Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak beberapa abad yang lalu dan berawal dari kebiasaan masyarakat desa yang berdoa bersama sebelum memulai masa tanam padi.

Nama Ngarot sendiri berasal dari kata dalam bahasa Sunda, yakni "ngaruat", yang berarti membersihkan atau memohon keselamatan. Salah satu ciri unik yang membedakan Ngarot dari tradisi lainnya adalah bahwa upacara ini hanya diikuti oleh para pemuda dan pemudi yang masih perawan dan perjaka.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman diskominfo.indramayukab.go.id, tradisi Ngarot dilakukan sebagai upaya permohonan kepada Tuhan untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah sekaligus keberkahan dalam mengolah sawah. Selain itu, Ngarot juga berfungsi sebagai sarana bagi para pemuda dan pemudi untuk berkenalan dan bersosialisasi dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Saat ini, tradisi Ngarot tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan agraris, tetapi juga menjadi tradisi budaya yang menarik wisatawan dan peneliti budaya.

Upacara dalam tradisi Ngarot terbagi dalam tiga bagian penting, yaitu arak-arakan, seserahan, dan pesta pertunjukan. Setiap tahapan ini memiliki makna dan tujuan tersendiri dalam pelaksanaannya.

Pada tahap awal, para peserta mengenakan pakaian tradisional khas, di mana para remaja putri memakai kebaya lengkap dengan aksesori seperti kalung, gelang, cincin, bros, dan peniti emas, serta dihias dengan bunga di rambut. Sementara itu, remaja putra mengenakan baju komboran, celana gombrang, dan ikat kepala. Sebelum memulai arak-arakan, semua peserta berkumpul di rumah Kepala Desa Lelea untuk didandani dengan pakaian adat.

Setelah berkumpul, para pemuda-pemudi yang mengikuti upacara ini akan diarak mengelilingi kampung dengan kepala desa berada di barisan paling depan. Dengan iringan musik khas daerah Indramayu, suasana arak-arakan menjadi meriah sekaligus sakral. Musik yang dimainkan juga merupakan simbol identitas budaya lokal yang semakin memperkuat pesan tradisi Ngarot.

Setelah selesai mengelilingi desa, para peserta upacara masuk ke balai desa, di mana mereka disambut dengan pertunjukan tari tradisional seperti Tari Topeng dan Ketuk Tilu. Tari-tarian ini merupakan bentuk hiburan yang juga menjadi sarana edukasi dan pelestarian budaya lokal.

Selanjutnya, acara inti dimulai dengan serangkaian upacara simbolis. Prosesi pembukaan diawali dengan pembacaan sejarah Ngarot yang menjelaskan asal-usul serta nilai-nilai luhur di balik upacara ini. Pembacaan sejarah ini penting karena sebagai pengingat akan makna di balik tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini. Setelah itu, Kepala Desa Lelea memberikan sambutan.

Pada tahap selanjutnya, diadakan prosesi seserahan, yaitu penyerahan simbolik dari kepala desa dan beberapa orang lainnya kepada para pemuda pemudi atau kasinoman.

Prosesi penyerahan dalam tradisi Ngarot terbagi dalam beberapa bagian. Pertama, kepala desa atau kuwu menyerahkan kendi berisi air putih sebagai simbol penanaman benih, sementara ibu kuwu menyerahkan kendi lain sebagai simbol pengairan. Tetua desa menyerahkan pupuk untuk menyuburkan tanaman, sedangkan raksa bumi menyerahkan alat pertanian sebagai lambang pengolahan tanah yang baik. Lebe atau tokoh agama setempat memberikan sepotong bambu kuning, daun andong, dan daun pisang yang akan ditancapkan di sawah sebagai simbol perlindungan tanaman dari hama.

Setiap aksesori yang dikenakan dalam upacara ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Bunga kenanga yang dipakai oleh para remaja putri, memuat pesan untuk tetap menjaga keperawanan dan kesucian. Sementara itu, bunga melati mengandung pesan agar para remaja putra dan putri selalu menjaga kebersihan diri dan hati mereka. Bunga kertas juga dikenakan oleh remaja putri sebagai lambang kecantikan dan simbol untuk menjaga diri sebagai kembang desa.

Selain bunga, aksesori kalung, gelang, dan cincin yang dikenakan memiliki pesan simbolis untuk para petani, yaitu ajakan untuk bekerja keras dalam mengolah sawah. Sementara itu, gelang akar bahar yang dipakai oleh para remaja putra mengandung pesan agar seorang jajaka (perjaka) selalu siap melindungi dan mengayomi keluarga serta masyarakat sekitarnya.

Simbol lainnya adalah pakaian khas kebaya dan komboran yang dikenakan para peserta. Pakaian ini bukan hanya menunjukkan identitas lokal, tetapi juga mengandung makna ajakan agar masyarakat tetap menjaga dan melestarikan pakaian adat petani.

Terakhir, selendang yang dikenakan oleh remaja putri mengandung pesan penting agar mereka selalu menjaga penampilan fisik sehingga tampil cantik dan menarik. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#upacara #tradisi #indramayu #Ngarot