Fakta pertama yang jarang diketahui adalah bahwa nama Keraton Kasepuhan bukanlah nama asli. Awalnya, keraton ini dikenal dengan sebutan Kraton Dalem Agung Pakungwati, yang dibangun pada tahun 1430 Hijriah oleh Pangeran Walangsungsang, putra dari Prabu Siliwangi. Pembangunan keraton ini ditujukan sebagai tempat tinggal untuk putrinya, Pakungwati. Menariknya, dinding-dinding pagar setinggi puluhan meter yang mengelilingi keraton dibangun dari susunan bata merah, yang direkatkan menggunakan campuran putih telur, getah aren, dan kapur sirih. Bahkan, beredar kepercayaan bahwa pagar seluas itu selesai dibangun hanya dalam satu malam.
Misteri kedua adalah keberadaan Kereta Kencana Singa Barong yang kini tersimpan di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 dan merupakan hasil akulturasi tiga kebudayaan sekaligus: Hindu dari India (dilambangkan oleh belalai gajah), Tiongkok dengan simbol naga di bagian wajah, serta kesenian Islam berupa bentuk Burok pada bagian badan dan sayap. Kombinasi ini mencerminkan persahabatan Cirebon dengan tiga peradaban besar: India, Tiongkok, dan Mesir.
Yang ketiga adalah Sumur Tujuh Mata Air, sebuah sumur unik yang terletak di dalam kompleks keraton. Sumur ini dialiri oleh tujuh mata air yang masing-masing memiliki warna berbeda seperti merah, kuning, hitam, hijau, keruh, dan cokelat. Meskipun demikian, air yang terkumpul di sumur tersebut tetap jernih dan aman digunakan. Air dari sumur ini kerap dimanfaatkan untuk berbagai ritual, seperti upacara tujuh bulanan, pembangunan rumah, mencari jodoh, hingga penyembuhan penyakit.
Misteri keempat adalah keberadaan Pohon Soka Langka. Umumnya, tanaman Soka hanya berfungsi sebagai tanaman hias dengan ukuran kecil. Namun, pohon Soka di Keraton Kasepuhan ini tumbuh besar dan telah berusia ratusan tahun. Di bawah pohon tersebut terdapat sebuah sumur bernama Sumur Upas yang kini sudah ditutup karena dianggap mengandung racun.
Terakhir, ada Sumur Kejayaan, sebuah kawasan yang sangat sakral dan tidak diperkenankan untuk dimasuki oleh perempuan. Area ini tertutup oleh pintu kayu dan papan peringatan. Di dalamnya terdapat petilasan Sunan Gunung Jati dan Pangeran Walangsungsang, serta sumur yang airnya sedikit namun tidak pernah kering. Sumur ini sering menjadi tujuan spiritual ribuan orang yang percaya akan keberkahannya.
Editor : Candra Mega Sari