Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Survei: Orang Tua di Indonesia Lebih Cemas soal Moral Anak daripada Nilai Sekolahnya

Muhammad Rayhan Satria Aji • Sabtu, 19 April 2025 | 10:00 WIB
Ilustrasi momen antara orang tua dengan anak. (freepik)
Ilustrasi momen antara orang tua dengan anak. (freepik)

JawaPos.com - Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh suka cita, pelajaran hidup, dan tantangan yang tak ada habisnya. Setiap keluarga pasti punya gaya parenting masing-masing, tergantung dari nilai pribadi, pengaruh lingkungan sekitar, dan ekspektasi sosial.

Baru-baru ini, Jakpat merilis hasil survei dari 983 responden mengenai pandangan mereka terhadap pola asuh anak. Hasilnya cukup menarik. Mayoritas orang tua di Indonesia memilih punya anak karena ingin memiliki keturunan (66%) dan merasa anak bisa melengkapi keluarga (63%).

Khusus bagi Gen X, sebanyak 62% percaya bahwa anak adalah pembawa rezeki dalam rumah tangga mereka. Keyakinan ini memperlihatkan bagaimana nilai tradisional masih kuat melekat.

Namun, punya anak tidak bisa asal-asalan. Sebelum menjadi orang tua, 81% responden menyatakan bahwa kesiapan finansial adalah hal paling utama yang perlu dipersiapkan.

Selain soal uang, kesiapan mental dan emosional juga menjadi perhatian. Lebih dari 70% responden menilai penting untuk memahami ilmu parenting dan pendidikan anak sebelum benar-benar punya anak.

Septiana Widi Sugiastuti, selaku Research Lead dari Jakpat, menekankan pentingnya kestabilan emosional orang tua.

"Karena anak menyerap energi dan respon dari orang tuanya," ujarnya.

Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa menjadi orang tua memang bukan hal mudah. Tiga dari lima ibu mengaku peran ini cukup berat dijalani.

Dalam urusan stres dan rasa lelah, para ibu lebih sering mengalaminya dibanding para ayah. Tapi menariknya, satu dari empat ayah justru merasa menjadi orang tua itu mudah.

Ayah juga lebih sering merasakan bahwa menjadi orang tua itu menyenangkan dan memuaskan. Ada perbedaan persepsi yang mungkin disebabkan oleh pembagian peran di rumah.

Media sosial ternyata punya pengaruh besar dalam pola asuh anak. Sebanyak 64% orang tua mengaku gaya parenting mereka dipengaruhi oleh media sosial.

Akun yang paling sering dijadikan rujukan adalah milik para ahli seperti dokter atau psikolog (74%). Disusul oleh akun-akun yang menampilkan gaya parenting menarik (73%) dan akun khusus topik parenting (73%).

Lalu, apa yang paling dikhawatirkan orang tua saat ini? Jawabannya bukan nilai jelek di sekolah. Sebanyak 94% orang tua lebih takut jika anaknya menjadi tidak sopan.

Lebih dari 90% juga merasa cemas jika anak mereka terlibat dalam kasus bullying, baik sebagai korban maupun pelaku. Isu sosial ini rupanya lebih menghantui dibanding soal akademik.

Nilai jelek di sekolah justru hanya disebutkan oleh 77% responden sebagai sumber kekhawatiran. Ini menandakan ada pergeseran fokus dalam dunia parenting.

Septiana menambahkan, "Hasil survei menunjukkan bahwa di era ini, orang tua lintas generasi memiliki kekhawatiran yang sama terhadap isu sosial anak, seperti bullying dan perkelahian, ketimbang masalah akademik."

Ia juga mengingatkan bahwa peran orang tua kini semakin kompleks.

"Ini menjadi tugas orang tua untuk lebih peka, karena anak bisa mengalami bullying tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan sekitar dan bahkan secara online (cyberbullying)," tutupnya.

Parenting zaman sekarang memang menuntut kepekaan ekstra. Lebih dari sekadar nilai rapor, anak juga perlu dibekali dengan adab, empati, dan kemampuan bersosialisasi yang sehat. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#moral #indonesia #Nilai #survei #orang tua #anak