JawaPos.com - Perayaan Tahun Baru Imlek nampaknya tidak lengkap tanpa sajian jeruk mandarin. Buah yang manis, segar, dan mudah dikupas ini sering menghiasi rumah-rumah yang didekorasi indah, dan menjadi camilan yang disajikan kepada tamu yang datang berkunjung.
Keberadaannya yang hampir selalu hadir di meja makan selama perayaan Imlek bukan hanya karena rasanya yang manis dan segar, tetapi juga karena makna simbolis yang mendalam di balik buah kecil berwarna oranye ini.
Bagi sebagian orang, jeruk mandarin dipercaya membawa harapan baik dan keberuntungan. Lalu, apa alasan jeruk mandarin begitu populer saat Tahun Baru Imlek? Berikut pembahasannya, dikutip dari South China Morning Post, Senin (20/1).
Mengapa Jeruk Mandarin Begitu Populer saat Tahun Baru Imlek?
Sejak zaman Dinasti Qing, jeruk mandarin telah menjadi simbol keberuntungan. Dulu, orang tua di Tiongkok meletakkan buah-buahan seperti jeruk mandarin, leci, kurma, atau kesemek di samping bantal anak-anak mereka, bersama dengan amplop merah berisi uang.
Tradisi itu bertujuan untuk mengusir monster-monster dalam cerita rakyat yang dianggap dapat membawa sial. Anak-anak akan memakan buah-buahan itu saat bangun di pagi hari, sebagai simbol pembersihan dan keberuntungan di awal tahun baru.
Selain menjadi camilan lezat, jeruk mandarin juga melambangkan sesuatu yang mendalam di budaya Tiongkok. Dalam bahasa Mandarin, kata untuk jeruk mandarin atau "ōugān" terdengar mirip dengan kata "emas dan kekayaan," menjadikannya simbol kemakmuran yang sangat didambakan.
Dalam bahasa Kantonis, kata untuk emas "gām" terdengar serupa dengan "ōugān," menjadikan jeruk mandarin sebagai perwujudan dari emas kecil yang membawa keberuntungan.
Oleh karena itu, jeruk mandarin tidak hanya dimakan, tetapi juga dibagikan antar keluarga dan teman untuk menyampaikan harapan terbaik, kebahagiaan, dan kekayaan yang akan datang.
Di Tiongkok Selatan, memberikan jeruk pada Tahun Baru Imlek sudah menjadi tradisi yang melekat, dan kini telah menyebar ke negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia yang memiliki populasi etnis Tionghoa yang besar.
Jeruk mandarin biasanya diberikan dalam pasangan karena angka genap dianggap membawa keberuntungan, sementara angka ganjil dipercaya tidak begitu menguntungkan.
Tidak hanya itu, jeruk mandarin yang masih memiliki tangkai dan daun juga melambangkan umur panjang dan kesuburan, menambah makna mendalam pada pemberian buah ini.
Jeruk mandarin telah menjadi buah yang tidak hanya digemari di Tiongkok, tetapi juga di banyak negara Asia, termasuk Indonesia. Di tengah keramaian perayaan Tahun Baru Imlek, buah menjadi simbol berbagi kebahagiaan, kemakmuran, dan keberuntungan yang dipilih untuk dipersembahkan kepada orang terdekat.
Editor : Candra Mega Sari