Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Tubuh Berkeringat Berlebihan? Ini Penjelasan Medis tentang Hiperhidosis dengan Pilihan Pengobatan Terapi Konservatif hingga Operasi

Amanda Zakiya Mufidatul Khoiroh • Jumat, 17 Januari 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami gangguan hiperhidrosis.
Ilustrasi seseorang mengalami gangguan hiperhidrosis.

JawaPos.com- Hiperhidrosis adalah kondisi tubuh ketika mengeluarkan keringat secara berlebih, tapi tidak terkait dengan suhu udara sekitar atau aktivitas fisik. Hiperhidrosis berarti berkeringat secara berlebihan.

Keringat merupakan proses alami tubuh yang dikendalikan oleh sistem saraf otonom. Kelenjar keringat tersebar di seluruh kulit tubuh, namun jumlahnya lebih banyak di area seperti tangan, kaki, ketiak, dan area genital.

Sebenarnya berkeringat adalah proses yang normal untuk mendinginkan suhu tubuh yang terlalu panas. Namun, pada penderita hiperhidrosis, keringat yang keluar lebih banyak dari keadaan normal. Kondisi ini terjadi bahkan saat tubuh tidak perlu melakukan pendinginan atau tidak melakukan kegiatan apapun.

Hiperhidrosis lebih sering dialami oleh wanita. Umumnya, kondisi ini mulai muncul pada usia kanak-kanak atau remaja. Meski tidak berbahaya, hiperhidrosis bisa menimbulkan perasaan malu, stres, depresi, atau gelisah.

Hiperhidrosis dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya, yakni hiperhidrolisis primer dan hiperhidrolisis sekunder. Hiperhidrosis primer yang terjadi karena sistem saraf terlalu aktif dalam merangsang kelenjar keringat. Akibatnya, kelenjar keringat mengeluarkan keringat meski tidak dipicu oleh aktivitas fisik atau kenaikan suhu tubuh, ada dugaan kondisi ini diturunkan dari keluarga.

Sementara hiperhidrosis sekunder terjadi akibat kondisi medis lain, seperti diabetes, obesitas, hipertiroidisme, penyakit asam urat, menopause, dan beberapa jenis kanker. Selain akibat kondisi medis, hiperhidrosis sekunder juga dapat muncul akibat efek samping obat tertentu, seperti antidepresan, propranolol, atau pilocarpine. Kondisi berhenti dari ketergantungan obat atau alkohol juga dapat menyebabkan keringat berlebih.

Dilansir dari laman alodokter.com, berikut beberapa gejala yang dialami penderita hiperhidrosis:

Lalu bagaimana cara mengatasi hiperhidrosis ini? Berikut penjelasan dari laman resmi rspondokindah.co.id, mengenai cara mengatasi gangguan keringat berlebih:

1. Terapi Konservatif

Beberapa pasien dengan hiperhidrosis memiliki gejala ringan sehingga tidak memerlukan operasi. Terapi konservatif penting untuk memastikan gejala tidak disebabkan oleh masalah endokrin atau ketidakseimbangan hormon.

2. Terapi Bedah

Pasien dengan gejala berat yang tidak merespon pengobatan dapat dirujuk untuk operasi. Tujuan operasi adalah menghilangkan rangsangan saraf otonom kelenjar keringat, menjaga fungsi saraf simpatik lainnya, dan meminimalkan trauma pada jaringan. Ini paling baik dilakukan melalui Endoskopi Torasik Simpatektomi (ETS).

Tindakan Endoskopi Torasik Simpatektomi (ETS) dilakukan melalui dua sayatan kecil di ketiak dengan anestesi umum dan lokal. Dua instrumen kecil dimasukkan ke dalam rongga dada untuk mengakses saraf simpatis yang mengatur kelenjar keringat. Saraf tersebut dipisahkan dari jaringan di sekitarnya dan kemudian di lem, lalu dibakar. Setelah prosedur, paru-paru dikembangkan kembali dan sayatan ditutup.

Prosedur ini berlangsung sekitar 30 menit per sisi, setelah itu pasien dipindah ke ruang pemulihan. Statistik menunjukkan bahwa operasi disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#keringat berlebih #hiperhidrosis #gangguan keringat berlebih