Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Menelusuri Sejarah dan Perkembangan Bandara Kertajati Majalengka, Bandara Terbesar Kedua di Indonesia

Siti Nahdia Usman • Kamis, 7 November 2024 | 12:56 WIB
Bandara Kertajati. (Gmaps/cep budhi darma)
Bandara Kertajati. (Gmaps/cep budhi darma)

JawaPos.com–Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati, Majalengka, merupakan salah satu proyek infrastruktur strategis nasional yang memiliki sejarah panjang dan penuh dinamika. Bandara ini merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Berlokasi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bandara ini dirancang untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Jawa Barat bagian timur. Dilansir dari setkab.go.id, pembangunan bandara ini dimulai pada 2014, namun rencana awalnya sudah ada sejak tahun 2003 saat era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pada 2005, Kementerian Perhubungan menetapkan lokasi bandara di Kertajati melalui surat keputusan. Namun, proyek ini mengalami stagnasi selama beberapa tahun, terutama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga tidak ada perkembangan signifikan hingga 2014.

Pembangunan bandara dimulai lagi pada 2014 setelah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Perhubungan berkolaborasi dalam pembiayaan, dengan total anggaran mencapai Rp 2,6 triliun.

Bandara Kertajati resmi dibuka pada 24 Mei 2018, ditandai dengan mendaratnya pesawat kepresidenan sebagai penerbangan pertama. Bandara ini dirancang untuk melayani hingga 29 juta penumpang dan 1,5 juta ton kargo per tahun.

Pada 2018, Bandara Internasional Kertajati resmi beroperasi, diresmikan Presiden Joko Widodo. Pembukaan ini menandai babak baru dalam sejarah transportasi udara di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat. Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang memungkinkan pesawat berbadan lebar untuk mendarat dengan nyaman, menjadikannya salah satu landasan pacu terpanjang di Indonesia.

Pembangunan Bandara Kertajati memiliki beberapa tujuan utama untuk meningkatkan konektivitas udara di wilayah Jawa Barat bagian timur, khususnya di kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning). Kedua, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut melalui peningkatan aktivitas bisnis dan pariwisata. Selain itu, untuk mengurangi beban Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung yang semakin padat.

Meskipun memiliki kapasitas besar dan fasilitas modern, Bandara Kertajati menghadapi tantangan serius dalam hal okupansi penerbangan. Sejak beroperasi, hanya ada sedikit rute penerbangan yang aktif, dengan banyak slot yang tidak terisi.

Kondisi ini menyebabkan bandara sering disebut mati suri meskipun telah dibangun dengan harapan tinggi untuk meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Ciayumajakuning. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah melakukan upaya untuk menarik maskapai agar membuka lebih banyak rute dari Kertajati. Pada 2023, bandara ini mulai melayani rute internasional ke Kuala Lumpur.

Bandara Kertajati juga direncanakan untuk berfungsi sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat guna mengoptimalkan penggunaannya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan menarik lebih banyak aktivitas di bandara.

Fasilitas yang tersedia di Bandara Kertajati termasuk terminal penumpang seluas 121 ribu meter persegi dan terminal kargo seluas 90 ribu meter persegi. Terdapat juga berbagai sistem keamanan dan informasi penerbangan modern yang mendukung operasional bandara.

Meskipun menghadapi tantangan dalam hal okupansi, Bandara Kertajati tetap menjadi harapan bagi pengembangan infrastruktur transportasi udara di Jawa Barat. Dengan potensi yang dimilikinya, bandara ini diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap perekonomian daerah dan meningkatkan aksesibilitas bagi masyarakat.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#bandara internasional #ekonomi #bijb #kertajati #majalengka #ciayumajakuning