Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Al Ittifaq: Pesantren Mandiri yang Menjadi Role Model Ketahanan Pangan dan Lingkungan

Fawwaz Ralli Perdana • Sabtu, 31 Mei 2025 | 12:00 WIB
Lahan tanam sayur di Pesantren Al Ittifaq (Dok. kemenag.go.id)
Lahan tanam sayur di Pesantren Al Ittifaq (Dok. kemenag.go.id)

JawaPos.com - Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah menjelma menjadi simbol pesantren modern yang mengintegrasikan pendidikan agama, kewirausahaan, dan pelestarian lingkungan. Dengan konsep agribisnis terpadu, pesantren ini mampu memasok produk pertanian ke berbagai pasar nasional, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket ternama seperti Superindo dan Aeon.

Tak hanya itu, koperasi pesantren (Kopontren) Al Ittifaq juga berhasil menjalin kerja sama strategis dengan lembaga bereputasi internasional. Produk hasil pertanian yang mereka kembangkan telah mendapatkan sertifikasi dari lembaga luar negeri dan diterima oleh ritel modern sebagai produk unggulan yang layak konsumsi masyarakat luas.
 
Baca Juga: Presiden Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden Macron dari Yogyakarta
 
Keberhasilan ini tentu tidak datang begitu saja. Al Ittifaq memisahkan pengelolaan antara divisi pendidikan dan bisnis secara profesional. Hal ini memungkinkan pesantren mengembangkan kurikulum salaf di satu sisi, dan fokus membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian dan peternakan di sisi lain.
 
Terdapat lebih dari 270 petani alumni yang bergabung dalam 10 kelompok tani binaan pesantren. Mereka secara rutin mengirimkan hasil panennya dua kali seminggu ke pesantren, yang terdiri dari berbagai jenis sayuran dan rempah, seperti selada, daun salam, wortel, hingga buah bit. Setelah itu, mereka juga mengikuti kajian keagamaan khusus bagi alumni.
 
Keterlibatan para alumni sebagai petani binaan menjadi bentuk kesinambungan antara dunia pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga pusat pengembangan sosial dan ekonomi berbasis masyarakat.
 
"Daripada dijual ke tengkulak, kami beli hasil tani mereka dengan harga yang lebih layak," kata Agus Setia Irawan, Ketua Kopontren Al Ittifaq, dilansir dari kemenag.go.id.
 
Dalam konteks ketahanan pangan, Al Ittifaq menjadi pionir pesantren agribisnis. Berdiri sejak 1934, dan kini dipimpin oleh KH. Fuad Affandi, pesantren ini mengembangkan sistem pertanian organik dan permakultur. Pendekatan ini memadukan kesinambungan ekologi dengan strategi ekonomi jangka panjang.
 
Mereka mengelola 11 hektare lahan milik pesantren dan 30 hektare lahan Perhutani yang ditanami kopi. Setiap harinya, sekitar 3,2 ton sayuran diproduksi dari lahan-lahan ini. Produk tersebut disalurkan ke pasar, restoran, hingga hotel-hotel di Bandung dan Jakarta. Strategi 3K – kualitas, kuantitas, dan kontinuitas – menjadi kunci utama.
 
Sebagai wujud inovasi berkelanjutan, Al Ittifaq juga memanfaatkan sistem pertanian organik berbasis teknologi. Mereka telah mengikuti pelatihan dari organisasi seperti JICA (Japan International Cooperation Agency) dan PUM Netherland. Dalam praktiknya, para santri mampu mengendalikan unsur hara dan pH tanah melalui sistem greenhouse modern.
 
Greenhouse yang dibangun menjadi simbol transisi menuju pertanian berbasis pengetahuan dan teknologi. Salah satu contoh keberhasilannya adalah budidaya tomat ceri, yang memiliki cita rasa lebih manis, tahan lama, dan masa panen hingga 12 bulan. Ini memberi kepercayaan diri kepada para santri dalam melihat masa depan pertanian sebagai profesi menjanjikan.
 
Pesantren Al Ittifaq juga berkontribusi pada program nasional dalam isu lingkungan. Pada tahun 2003, pesantren ini menerima Penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) karena berhasil mengintegrasikan nilai agama, kewirausahaan, dan kepedulian terhadap ekosistem dalam kehidupan santri.
 
Tak hanya itu, prinsip "tidak ada sejengkal tanah yang tidur" menjadi fondasi pengelolaan lahan di pesantren. Tanah produktif dimanfaatkan untuk bertani dan beternak, sementara limbahnya digunakan sebagai pupuk organik dan biogas. Sistem ekonomi sirkular ini menjadi contoh nyata praktik efisien dan ramah lingkungan yang jarang diterapkan secara konsisten di lembaga pendidikan.
 
Kementerian Agama RI pun memberikan apresiasi atas pencapaian Al Ittifaq. "Langkah Al Ittifaq dalam kewirausahaan dan lingkungan hidup patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa pesantren mampu berdaya dan memberi kontribusi besar bagi masyarakat," ujar Direktur Pesantren, Dr. Basnang Said.
 
Pesantren ini bahkan telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 70 pesantren lain di Jawa dan Sumatera. Melalui pendekatan kolaboratif dan ekspansi jaringan, mereka membangun pusat distribusi dan merancang ekspor ke Jepang dan Belanda. Upaya ini juga didukung pembukaan pasar digital, menyesuaikan dengan tren perdagangan masa kini.
 
Dengan semua pencapaian tersebut, Al Ittifaq bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi motor transformasi sosial dan ekonomi yang menjangkau luas hingga ke pelosok desa. Pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan Islam mampu menjawab tantangan global melalui inovasi lokal dan nilai keberlanjutan yang kuat.
 
Baca Juga: Presiden Prabowo dan Macron Luncurkan Kemitraan Strategis Kebudayaan di Candi Borobudur
Editor : Candra Mega Sari
#ketahanan pangan #Ciwidey #Al Ittifaq #lingkungan #pesantren