Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Mengenal Tradisi Babarit, Tradisi untuk Memeriahkan Hari Jadi Kuningan

Lania Monica • Jumat, 4 Oktober 2024 | 18:03 WIB
Tradisi Babarit. (kuningankab.go.id)
Tradisi Babarit. (kuningankab.go.id)

JawaPos.com–Tradisi Babarit adalah salah satu warisan budaya yang sarat makna di Kabupaten Kuningan. Setiap tahun, Babarit diselenggarakan memeriahkan Hari Jadi Kuningan, dengan tujuan tidak hanya merayakan ulang tahun kabupaten, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam masyarakat setempat.

Istilah Babarit berasal dari kata babar yang berarti lahir. Acara ini biasanya dimulai dengan doa bersama atau ngarajah untuk memohon perlindungan serta bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

Babarit menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, serta wujud dari rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap alam. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara manusia dengan lingkungan dan juga antar sesama, menjadikannya bagian integral dari identitas masyarakat Kuningan.

Salah satu prosesi utama dalam Babarit adalah ritual penyaweran air dari empat penjuru, yang melambangkan persatuan dan keseimbangan alam. Air diambil dari empat titik yang dianggap suci, yaitu dari arah Barat diambil dari Mata Air Cihulu di Kelurahan Winduherang, dari Utara berasal dari Mata Air Cikahuripan di Kahiyangan Indapatra, dari Timur dari Kabuyutan Indrakila di Karangkencana, dan dari Selatan dari Kabuyutan Jamberama di Selajambe.

Penyatuan air ini melambangkan kebersamaan dan keseimbangan yang harus dijaga manusia dalam hubungannya dengan alam. Dalam prosesi tersebut, tidak hanya air yang menjadi simbol utama, tetapi juga tumpeng, gamelan, dan tarian tradisional yang turut menyemarakkan acara.

Tumpeng yang disajikan biasanya berbentuk gunungan nasi kuning, yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Tumpeng tersebut kemudian dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat.

Lebih dari sekadar sebuah upacara adat, Babarit juga merupakan wujud dari rasa syukur masyarakat Kuningan kepada Tuhan atas segala rezeki dan nikmat yang telah diterima. Masyarakat berkumpul untuk melakukan doa bersama, atau yang dikenal dengan istilah ngarajah, memohon perlindungan serta pertolongan dari segala bahaya.

Doa ini menjadi inti dari upacara, sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur yang diyakini terus menjaga dan melindungi daerah mereka. Tradisi Babarit adalah manifestasi dari nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui Babarit, masyarakat Kuningan tidak hanya merayakan ulang tahun daerah mereka, tetapi juga mengingatkan diri akan pentingnya bersyukur, menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, serta selalu berbagi dan peduli dengan sesama.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#kuningan #tradisi #hari jadi #Nilai Luhur #budaya