JawaPos.com - Tahun 2025 ini menjadi tahun yang penuh tantangan bagi masyarakat Indonesia. Berbagai permasalahan yang selama ini tersembunyi perlahan mulai terungkap satu per satu. Mulai dari korupsi yang telah berlangsung selama puluhan tahun di berbagai lapisan birokrasi pemerintahan, sistem pendidikan yang gagal beradaptasi dengan tantangan global serta perkembangan dunia modern, hingga ketidakpastian hukum yang menyebabkan investor dan pelaku bisnis kehilangan kepercayaan.
Selain itu, daya beli masyarakat terus mengalami penurunan akibat maraknya sindikat judi online dan pinjaman online ilegal yang dibiarkan beroperasi. Puncaknya adalah kegagalan negara dalam menyediakan lapangan kerja formal bagi jutaan tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun. Dalam kondisi seperti ini, banyak masyarakat yang merasa putus asa karena seolah-olah tidak ada peluang untuk bertahan.
Pekerjaan profesional terancam pemutusan hubungan kerja (PHK), membuka usaha pun sulit karena daya beli masyarakat yang semakin lemah, bahkan menjadi aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri pun tidak sepenuhnya aman dari ancaman efisiensi anggaran. Semua terasa serba salah.
Prinsip Utama dalam Mengelola Keuangan di Masa Sulit
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, memahami cara mengatur keuangan dengan bijak menjadi hal yang sangat penting.
Menurut kanal YouTube Ngomongin Uang, ada tiga prinsip utama yang perlu diterapkan dalam mengelola keuangan, terutama di masa sulit. Dengan menerapkan tiga prinsip utama ini, kita dapat tetap bertahan dan menjaga kestabilan finansial di tahun 2025.
Adapun, prisip tersebut antara lain:
1. Hindari Menambah Utang Baru
Banyak masyarakat Indonesia yang terjebak dalam utang akibat pinjaman online, layanan pay later, atau cicilan konsumtif. Awalnya, kebiasaan berutang ini mungkin terasa membantu, misalnya untuk membeli sesuatu dengan pembayaran yang bisa ditunda. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menjadi ketergantungan. Begitu seseorang terjebak dalam lingkaran utang, maka kehidupan finansialnya akan stagnan dan sulit berkembang.
2. Pertimbangkan dengan Matang Setiap Pengeluaran
Jika dulu kita masih bisa bebas berbelanja menggunakan layanan pay later tanpa berpikir panjang, kini di tahun 2025, ketika ancaman PHK bisa datang kapan saja dan usaha bisa goyah dalam sekejap, setiap rupiah yang kita miliki harus benar-benar memiliki tujuan yang jelas.
3. Jangan Mengambil Resiko Keuangan yang Dapat Memperburuk Kondisi Finansial
Selain itu, dalam menghadapi situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian, kita sebaiknya tidak mengambil risiko keuangan yang terlalu besar. Jangan terburu-buru berinvestasi atau menerima tawaran bisnis yang belum sepenuhnya dipahami. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan spekulasi.
Bagi yang sudah memiliki pengalaman investasi dan kondisi finansial yang stabil, mungkin situasi ekonomi saat ini bisa dianggap sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Namun, bagi mereka yang kondisi keuangannya masih rentan, belum memiliki dana darurat, dan hanya mengandalkan satu sumber penghasilan, fokus utama yang harus dilakukan adalah bertahan terlebih dahulu.
Dalam kondisi seperti ini, memilih aset yang lebih stabil dan likuid seperti emas, reksa dana pasar uang, atau reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan yang lebih bijak untuk mengalokasikan dana. Di masa sulit seperti ini, mereka yang mampu bertahan bukanlah orang yang berani mengambil risiko terbesar, tetapi mereka yang paling disiplin, paling bijak, dan paling sadar dalam mengelola keuangan.
Cara Menambah Pemasukan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Sulit
Dengan harga-harga yang terus naik dan nilai tukar rupiah yang semakin melemah, daya beli kita pun lama-kelamaan akan terkikis. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara agar pemasukan tetap bisa bertambah. Hal pertama yang harus kita sadari adalah kondisi ekonomi saat ini terasa begitu berat karena terjadi perubahan besar dalam lanskap ekonomi dalam lima tahun terakhir.
Sektor kerja formal yang dulu mampu menyerap banyak tenaga kerja kini semakin tidak dapat diandalkan. Perusahaan besar, perusahaan teknologi, startup, bahkan instansi pemerintah seperti ASN dan BUMN pun sudah tidak bisa lagi dijadikan tujuan utama dalam berkarier seperti lima atau sepuluh tahun lalu.
Situasi ekonomi telah berubah, dan kita harus bisa menerimanya serta segera beradaptasi. Ketika sektor formal tidak lagi bisa diandalkan, maka satu-satunya cara yang tersisa adalah mencari peluang di sektor informal. Banyak orang mulai menyadari bahwa ekonomi digital berkembang dengan pesat dan masih menyimpan banyak peluang.
Sekarang, ada orang yang bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah perbulan hanya dengan berjualan melalui live streaming, sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan tiga hingga lima tahun yang lalu. Ada juga yang sukses menjual produk digital seperti e-book, template desain, atau kursus online dengan modal kecil tetapi margin keuntungan yang besar.
Selain itu, banyak orang yang berhasil meraih kesuksesan sebagai freelancer di platform global seperti Upwork dan Fiverr. Mereka bekerja dengan klien internasional, mendapatkan bayaran dalam dolar, dan tidak terikat pada sistem kerja konvensional.
Namun, jika peluang ini begitu besar, mengapa masih banyak yang kesulitan memperoleh penghasilan tambahan? Jawabannya sederhana, tren ini masih tergolong baru, dan banyak orang belum memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan untuk memanfaatkannya.
Banyak yang mencari ide pekerjaan tambahan, tetapi ketika diarahkan ke platform freelance yang menyediakan pekerjaan hanya dengan modal laptop dan internet, mereka ternyata belum memiliki keterampilan yang diperlukan. Padahal, banyak pekerjaan yang hanya memerlukan kemampuan dasar, seperti administrasi, menulis atau copywriting, kemampuan berbahasa Inggris, atau keterampilan desain sederhana menggunakan Canva.
Oleh karena itu, ini adalah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa cara lama dalam mencari uang tidak lagi bisa diandalkan. Jika masih berpikir seperti lima tahun yang lalu—mengandalkan pekerjaan kantoran dengan gaji stabil tanpa khawatir PHK atau membuka usaha konvensional yang bergantung pada daya beli masyarakat—maka tahun 2025 bisa menjadi tantangan besar.
Peluang paling realistis saat ini terletak pada sektor gig economy dan digital economy. Untuk bisa bertahan, penting untuk beradaptasi dan terus mengembangkan keterampilan.
Baca Juga: Menteri PPPA Arifah Fauzi Dorong Penguatan Peran Perempuan di Cirebon
Beberapa keterampilan dasar yang perlu dikuasai dalam ekonomi digital ini antara lain:
- Kemampuan desain sederhana dengan Canva dan editing video dasar dengan CapCut.
- Keterampilan menulis atau copywriting, yang bisa didukung dengan AI tools untuk mempercepat proses.
- Kemampuan administrasi dasar untuk bekerja sebagai virtual assistant, data entry, atau transkripsi data.
- Membuat produk digital seperti template Canva, preset Lightroom, atau desain mockup.
- Menjadi host live streaming di TikTok Shop atau Shopee Live untuk mempromosikan produk.
- Mengunggah foto dan video ke platform stok seperti Shutterstock atau Pond5 untuk mendapatkan penghasilan pasif.
Dunia telah berubah, dan kita harus berubah bersama dengannya. Jika ingin bertahan, kita harus menjadi lebih melek digital dan mulai memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mencari penghasilan, bukan hanya sebagai sarana hiburan.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah