JawaPos.com - Pernahkah kamu mendengar tentang Nadran? Ini adalah tradisi unik yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Indramayu, Jawa Barat. Bagi masyarakat pesisir Indramayu, Nadran bukan sekadar upacara, melainkan sebuah perayaan penuh makna yang menyatukan mereka dengan alam dan leluhur.
Dilansir dari laman indramayukab.go.id, kata "Nadran" berasal dari kata Arab "nazran" yang berarti nazar atau persembahan. Meskipun asal-usul tradisi Nadran di Indramayu masih simpang siur, namun dipercaya bahwa upacara ini telah ada sejak zaman nenek moyang dan terus dilestarikan hingga kini.
Pada mulanya tradisi Nadran dilakukan dengan sangat sederhana, di mana nelayan berkumpul dan berdoa bersama sebelum memulai aktivitas melaut. Namun, seiring berjalannya waktu, Nadran berkembang menjadi acara yang lebih meriah dan terstruktur. Ritual-ritual tambahan mulai muncul, seperti pembuatan sesajen, arak-arakan perahu hias, hingga larung sesaji ke laut.
Upacara Nadran dilakukan di berbagai pantai di Indramayu, seperti Pantai Karangsong, Eretan Wetan, dan Limbangan. Waktu pelaksanaannya tidak tetap, namun umumnya dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang dianggap sebagai waktu yang baik berdasarkan penanggalan Jawa.
Biasanya, Nadran digelar menjelang musim angin barat, sekitar bulan Oktober atau November. Acara ini dimulai dengan berbagai persiapan, seperti membersihkan perahu dan membuat sesajen dari hasil bumi yang nantinya akan dilarung ke laut. Pada hari puncak, perahu-perahu yang dihiasi warna-warni berlayar ke tengah laut, diiringi oleh doa dan harapan agar tahun berikutnya kembali mendapatkan hasil laut yang melimpah. Begitu juga dengan sesajen. Setelah sesajen siap, dilakukan arak-arakan menuju pantai dengan diiringi musik tradisional. Puncak acara adalah pelarungan sesajen ke laut, diiringi doa bersama.
Setiap benda yang ada dalam sesajen memiliki makna simbolis. Misalnya, kepala kerbau melambangkan kekuatan dan keberanian, sedangkan buah-buahan melambangkan kesuburan. Kembang tujuh rupa dianggap memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh-roh jahat.
Acara ini tidak hanya melibatkan para nelayan, tetapi juga masyarakat umum, pemerintah, dan tokoh adat setempat. Bahkan dalam perkembangannya, Nadran menjadi sebuah festival budaya yang dapat menarik wisatawan.
Nadran mengandung makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Indramayu. Selain sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan, tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial antar nelayan dan masyarakat pesisir.
Editor : Candra Mega Sari