JawaPos.com–Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon menggencarkan kampanye penggunaan kantong ramah lingkungan di pasar tradisional. Hal tersebut dilakukan di tengah kenaikan harga plastik di daerah tersebut.
Kepala DKUKMPP Kota Cirebon Iing Daiman mengatakan, kenaikan harga kantong plastik saat ini cukup berpengaruh terhadap aktivitas pedagang, terutama pada margin keuntungan.
”Kalau bertanya ke beberapa pedagang, boleh dibilang cukup berpengaruh karena mengurangi margin keuntungan,” kata Iing Daiman dilansir dari Antara.
Baca Juga: DLH Cirebon Optimalkan 64 Armada untuk Tangani Persoalan Sampah
Meski demikian, dia menyebut kondisi tersebut mendorong pedagang melakukan berbagai penyesuaian dalam penggunaan kemasan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggabungkan beberapa komoditas dalam satu kantong plastik.
Selain itu, dia mengungkapkan, pedagang di Kota Cirebon pun mulai mengurangi penggunaan plastik berlapis pada sejumlah komoditas. Dia mencontohkan minyak curah yang sebelumnya dikemas dengan dua lapis plastik kini cukup menggunakan satu lapisan.
Iing menilai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya efisiensi, sekaligus pengurangan sampah plastik di pasar tradisional. Kesadaran pedagang untuk mengurangi penggunaan plastik mulai tumbuh meski belum sepenuhnya signifikan.
Baca Juga: Pemkot Cirebon Siapkan Dukuh Semar Jadi Sentra Bunga dan Wisata Religi
Sejumlah pedagang, lanjut dia, mulai memanfaatkan bahan alternatif non-plastik seperti daun pisang sebagai pembungkus.
”Bahkan di sejumlah pasar, para pembeli sudah membawa kantong sendiri. Jadi secara tak langsung mulai mengurangi pemakaian kantong plastik,” tandas Iing Daiman.
Sementara itu, Aeni, 60, salah satu pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku kenaikan harga plastik dan bahan pendukung lainnya dirasakan dalam aktivitas usaha. Dia menyampaikan harga kantong plastik yang biasanya sekitar Rp 8.000 per kemasan kini naik menjadi Rp 12.000 sejak awal April 2026.
Dia mengatakan kondisi tersebut sempat mendorongnya menaikkan harga jual, meski akhirnya kembali ke harga semula karena respons pembeli.
”Omzet yang sebelumnya berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per hari kini menurun, bahkan untuk mencapai Rp 100 ribu menjadi lebih sulit,” ungkap Aeni.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah