JawaPos.com–Pemerintah Kota Cirebon menyebutkan angka produktivitas tanaman padi saat ini mencapai 7 ton per hektare (ha) di beberapa titik. Namun luas lahan sawah berkurang.
”Tahun-tahun sebelumnya angka produktivitas padi sekitar 5-6 ton per hektare. Masih standar, kalau tinggi di atas angka tadi. Saat ini untuk masa panen padi yang ditanam pada 2024, sudah 7 ton per hektare,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon Elmi Masruroh seperti dilansir dari Antara di Cirebon, Senin (3/2).
Elmi mengatakan, luas sawah di Kota Cirebon kini tersisa 111 hektare. Bahkan, berdasar data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), lahan baku sawah yang saat ini tercatat hanya 93 hektare.
Menurut dia, dari jumlah lahan sawah yang terbatas itu membuat produksi padi di wilayah Kota Cirebon setiap tahun hanya berkisar 900 ton. Saat ini terdapat sekitar 15 kelompok tani (poktan) di Kota Cirebon, dengan masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 15 petani.
Dia mengakui regenerasi petani menjadi tantangan, mengingat sebagian besar petani yang tergabung dalam kelompok tersebut sudah berusia lanjut. ”Kami menghadapi kendala dalam regenerasi petani. Kebanyakan petani yang aktif saat ini sudah berusia lanjut,” ujar Elmi Masruroh.
Elmi menyampaikan DKP3 Kota Cirebon terus berupaya menjaga produktivitas pertanian, termasuk dengan pendampingan kepada petani dan optimalisasi lahan yang masih tersedia. Selain itu, pihaknya pun sudah menyalurkan bantuan pompa air dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang menjadi dukungan bagi para petani untuk lebih optimal melakukan percepatan tanam serta meningkatkan hasil panen.
”Bantuan pompa air tersebut diprioritaskan kepada poktan yang memiliki lahan sawah tadah hujan. Terdapat 8 pompa air yang disalurkan untuk 66 hektar lahan sawah tadah hujan,” ungkap Elmi Masruroh.
Dia menyebutkan bantuan semacam ini, bisa meningkatkan indeks pertanaman (IP) padi dari satu kali tanam menjadi dua kali dalam setahun.
”Kota Cirebon, memang bukan daerah agraris. Namun kami tetap berupaya memberdayakan para petani, setidaknya mereka bisa bertahan secara ekonomi dengan menggarap lahan yang tersedia,” tutur Elmi Masruroh.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah