JawaPos.com–Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon merupakan salah satu masjid bersejarah yang kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu tradisi unik yang menjadi ciri khas masjid ini adalah azan pitu.
Tujuh muazin mengumandangkan azan secara bersamaan. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menyimpan kisah sejarah yang menarik.
Masjid ini didirikan pada abad ke-15 oleh Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang terkenal dalam penyebaran Islam di Jawa. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Cirebon. Keberadaannya mencerminkan akulturasi antara budaya lokal dan ajaran Islam.
Pada masa itu, Cirebon merupakan daerah yang strategis dalam perdagangan dan interaksi budaya. Banyak pedagang dari berbagai wilayah datang ke Cirebon, sehingga menjadikan kota ini sebagai tempat peleburan berbagai budaya, termasuk Islam.
Dilansir dari unswagati.ac.id, kisah azan pitu bermula ketika Cirebon dilanda wabah penyakit yang mengancam keselamatan warga. Banyak orang jatuh sakit dan meninggal dunia sehingga masyarakat merasa cemas dan takut akan keadaan tersebut. Dalam situasi genting ini, diperlukan suatu tindakan untuk memohon pertolongan Tuhan.
Dalam salah satu babad Cirebon, diceritakan tentang wabah penyakit yang menyebar di masyarakat adalah akibat perbuatan seorang pendekar ilmu hitam bernama Menjangan Wulung. Menjangan Wulung yang tidak menyukai penyebaran syiar Islam di Cirebon menggunakan kekuatan ilmu hitamnya untuk menyebarkan wabah, yang secara khusus menyerang para muazin yang melantunkan azan sehingga menyebabkan banyak dari mereka meninggal dunia.
Di tengah kepanikan tersebut, Nyimas Pakungwati, istri Sunan Gunung Jati, memberikan saran untuk mengumandangkan azan dengan melibatkan tujuh orang muazin sekaligus. Dia percaya bahwa suara azan yang menggema dari tujuh arah dapat mengusir kekuatan sihir yang dianggap sebagai penyebab wabah tersebut.
Setelah saran tersebut diterima, pelaksanaan azan pitu dilakukan. Tujuh muazin berkumpul di masjid dan mengumandangkan azan secara bersamaan dengan penuh khidmat. Masyarakat yang mendengar suara azan merasa tenang dan berharap agar wabah segera berakhir.
Azan pitu bukan hanya sekadar panggilan untuk melaksanakan salat, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk permohonan kepada Allah untuk memberikan perlindungan dan keselamatan kepada umat dari segala mara bahaya.
Seiring berjalannya waktu, tradisi azan pitu mengalami perkembangan. Awalnya dilaksanakan setiap waktu salat, kini hanya dilakukan pada Sholat Jumat sebagai bentuk penghormatan terhadap hari suci umat Islam.
Saat ini azan pitu menjadi salah satu daya tarik wisata religi di Cirebon. Banyak pengunjung yang datang untuk menyaksikan pelaksanaan azan ini secara langsung serta merasakan atmosfer spiritual yang kental di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Selain itu, muazin di Masjid Sang Cipta Rasa terdiri atas orang-orang terpilih yang memiliki suara merdu dan kemampuan dalam melafalkan azan dengan baik. Mereka dilatih secara khusus untuk memastikan bahwa pelaksanaan azan pitu berlangsung dengan lancar dan khidmat.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah