Dilansir dari laman lontar.ui.ac.id, kedatangan bangsa Belanda pada masa itu membawa teknologi industri modern dari Inggris, yang kemudian diterapkan dalam proses produksi gula di Indonesia. Berdirinya pabrik gula tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga mengubah tatanan sosial masyarakat Indonesia dari feodal menjadi industri.
Mengutip akun TikTok @idfood_official, pabrik yang beroperasi sejak 1872 ini diinisiasi oleh Benjamin Feist bekerja sama dengan perusahaan gula Belanda. Beberapa peninggalan Belanda, seperti kereta pengangkut tebu dan mesin-mesin produksi, masih terjaga hingga kini.
Meskipun berusia tua, Pabrik Gula Sindanglaut masih beroperasi secara produktif. Dikutip dari laman cirebonkab.go.id, Menteri Pertanian juga mendorong peningkatan produksi gula di pabrik ini demi mencapai swasembada gula nasional.
Selain sebagai pusat produksi gula, Pabrik Gula Sindanglaut juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi. Pemerintah Kabupaten Cirebon berencana mengembangkannya sebagai objek wisata heritage untuk menarik minat wisatawan.
Berbagai mitos berkembang di masyarakat terkait Pabrik Gula Sindanglaut, terutama saat pabrik sempat tidak beroperasi. Namun, terlepas dari mitos tersebut, pabrik ini merupakan warisan sejarah yang perlu dilestarikan dan dijadikan sebagai tempat belajar tentang proses produksi gula pada masa kolonial.
Editor : Candra Mega Sari