JawaPos.com–Kota Cirebon memiliki berbagai macam objek budaya yang masih dilestarikan masyarakatnya hingga sekarang. Salah satunya yaitu, wayang.
Cirebon terkenal dengan kesenian wayang kulit yang kaya akan nilai budaya juga spiritual. Dengan lokasi geografis Cirebon di pesisir utara Jawa, pertunjukan seni wayang di Cirebon memiliki tradisi unik yang menggabungkan elemen budaya Sunda dengan Jawa.
Dalam artikel kali ini, kita akan menggali lebih dalam mengenai sejarah, ciri khas, serta peran wayang dalam masyarakat Cirebon. Yuk simak sama-sama!
Sejarah
Kesenian wayang kulit Cirebon mulai berkembang di abad ke-15. Wayang kulit mulai masuk ke kota Cirebon bersamaan dengan masuk dan menyebarnya agama Islam di kota Cirebon. Yang menjadikan objek budaya satu ini tidak hanya semerta-merta menjadi simbol budaya, tetapi juga memiliki peran spiritual yang amat penting dalam penyebaran agama Islam di kota Cirebon.
Penyebaran agama Islam menggunakan metode kesenian wayang kulit di Cirebon dipercaya budayawan bermula dari kedatangan Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu anggota dari Wali Songo. Hal ini diyakini dapat memudahkan proses dakwah yang dijalankan, agar ajaran-ajaran Islam yang disampaikan lebih mudah dipahami masyarakat setempat.
Dilansir dari situs pariwisata kota Cirebon, wayang kulit khas Cirebon memiliki nama lain yaitu Wayang Purwa yang memiliki makna Awal atau Permulaan. Itu karena, wayang kulit khas Cirebon dianggap sebagai jenis wayang yang hadir paling awal.
Kulit sapi atau kerbau menjadi bahan utama yang paling sering dipakai untuk pembuatan wayang kulit. Wayang kulit juga dilengkapi kerangka juga pegangan yang terbuat dari bambu, yang biasa disebut dengan cempurit, yang memiliki fungsi untuk menggerakkan wayang.
Secara historis, pergelaran wayang kulit pertama kali dipentaskan di Cirebon pada pelaksanaan pernikahan Syekh Syarif Hidayatullah dengan Ratu Mas Pakungwati. Pernikahan tersebut berlangsung pada 10 Sura tahun 1479 masehi.
Pergelaran wayang kulit di Cirebon juga biasanya diselenggarakan ketika ada acara tradisi seperti peringatan 1 sura, upacara pernikahan, acara Mudun Lemah, atau acara syukuran lainnya.
Pementasan wayang kulit tidak hanya diselenggarakan di kawasan Keraton Kacirebonan, masyarakat Cirebon juga biasa menggelar pementasan wayang kulit untuk acara seperti, Ngunjung Buyut, upacara Nadran, dan Mapag Sri.
Ciri Khas
Berbeda dengan wayang kulit pada daerah lainnya di Indonesia yang hanya memiliki 4 punakawan Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Wayang kulit khas kota Cirebon memiliki 9 tokoh punakawan. Semar, Petruk, Gareng, Bagong, Bitarota, Sekar Pandan, Ceblok, Begal Buntung, dan Cungkring.
Kesembilan tokoh punakawan wayang purwa, dipercaya menggambarkan jumlah wali songo yang dianggap sebagai tokoh yang memiliki peran serta kontribusi yang sangat penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia.
Peran Wayang Dalam Masyarakat
Wayang Kulit atau Wayang Purwa bukan hanya sekadar hiburan bagi masyarakat Cirebon, kesenian wayang kulit juga berperan sebagai media untuk mengedukasi juga penyampaian pesan-pesan moral yang terkandung di dalam cerita yang dipentaskan.
Di era modern seperti sekarang ini, penting bagi kita sebagai generasi muda juga penerus bangsa untuk mengenali, memelihara, serta ikut serta dalam melestarikan budaya wayang agar nilai-nilai budaya yang diturunkan tetap hidup dan terus memberikan makna yang positif kepada masyarakat. Dengan begitu, wayang tidak hanya menjadi sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas budaya di masa kini dan mendatang.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah