JawaPos.com–Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam yang erat kaitannya dengan Sunan Gunung Jati. Dia salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa.
Didirikan pada 1480, pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Nyi Ratu Pakungwati dengan bantuan dari Wali Songo, termasuk Sunan Kalijaga yang mendapat kehormatan untuk mendirikan tiang utama (sokoguru). Uniknya, sokoguru tersebut dikenal sebagai sokotatal, karena terbuat dari potongan-potongan kayu yang diikat menjadi satu, simbol kebersamaan dalam membangun masjid tersebut.
Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa menggabungkan gaya Jawa dan Hindu Majapahit, yang tampak pada gapura dan serambi masjid serta atapnya yang menyerupai rumah adat Joglo. Gaya ini mencerminkan perpaduan budaya yang hadir dalam pembangunan tempat ibadah tersebut, di mana Sunan Kalijaga dan Raden Sepat menjadi arsitek utama.
Masjid ini memiliki sembilan pintu, dengan satu pintu utama yang hanya dibuka saat salat Jumat atau hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pintu utama yang tingginya 240 cm ini menjadi simbol kemegahan masjid, sementara delapan pintu lainnya dibuat lebih rendah untuk mengajarkan kerendahan hati dan kesetaraan di hadapan Tuhan.
Salah satu keunikan masjid ini adalah dindingnya yang dihiasi piring porselen buatan Tiongkok dari Dinasti Ming. Hiasan ini tak lepas dari hubungan erat antara Sunan Gunung Jati dan Dinasti Tiongkok. Sunan Gunung Jati menikahi Ong Tien, putri seorang kaisar Tiongkok, yang kemudian berganti nama menjadi Nyi Ratu Rara Sumanding.
Di bagian dalam, masjid ini memiliki 12 tiang kayu jati sebagai penyangga utama. Namun, karena faktor usia, beberapa tiang tersebut kini telah diperkuat dengan besi dan ditambah 18 penyangga baru saat pemugaran pada 1977. Hal ini menunjukkan bagaimana masjid ini terus dirawat dan dipertahankan keasliannya meskipun telah berusia ratusan tahun.
Mihrab di Masjid Sang Cipta Rasa juga menyimpan simbol penting. Di dalamnya terdapat tiga ubin yang dipasang Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang, yang masing-masing melambangkan iman, Islam, dan ikhsan. Selain itu, terdapat ukiran motif Majapahit yang menghiasi mihrab tersebut, memberikan sentuhan khas pada interior masjid.
Masjid ini juga memiliki mimbar yang dikenal sebagai Sang Ranggakosa, berbentuk kursi dengan tiga anak tangga, dihiasi ukiran bunga dan rantai pada setiap sisinya. Mimbar ini menjadi tempat khatib menyampaikan khutbah Jumat dan acara-acara keagamaan lainnya.
Salah satu tradisi unik di Masjid Sang Cipta Rasa adalah penggunaan tujuh muazin untuk mengumandangkan azan pada saat salat Jumat. Tradisi ini berawal dari cerita Sunan Gunung Jati yang mengusir sosok mistis bernama Menjangan Wulung dengan cara memperdengarkan azan secara bersamaan oleh tujuh muazin.
Dengan segala keunikan dan nilai sejarahnya, Masjid Sang Cipta Rasa menjadi salah satu simbol kebudayaan dan keagungan Cirebon. Nama masjid ini, yang berarti dibangun dengan rasa keagungan, benar-benar tecermin dalam setiap aspek dari bangunan ini, dari arsitektur hingga tradisi yang terus dilestarikan.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah