JawaPos.com–Keraton Kacirebonan, di Jalan Pulasaren, Kota Cirebon, merupakan salah satu keraton bersejarah yang didirikan Pangeran Muhamad Haerudhin. Putra mahkota dari Sultan Kanoman ke-IV, itu terkenal karena memimpin perlawanan terhadap Belanda.
Berdirinya Keraton Kacirebonan tidak lepas dari pertempuran besar di Cirebon pada abad ke-17 dan awal abad ke-18. Saat itu, Belanda mulai mengintervensi wilayah kedaulatan Keraton Kanoman pada 1670. Peperangan yang melibatkan rakyat Cirebon berlangsung hampir lima tahun. Pangeran Haerudhin kalah pada 1696 dan diasingkan ke Ambon, Maluku.
Meskipun diasingkan, pengaruhnya tetap kuat di kalangan rakyat Cirebon. Pangeran Muhamad Haerudhin akhirnya dipulangkan dan pada 1808, mendirikan Kesultanan Kacirebonan sebagai simbol perlawanan, dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin.
Bangunan Keraton Kacirebonan didirikan pada awal abad ke-19 dengan luas mencapai 46.500 meter persegi. Seperti keraton-keraton lain di Cirebon, posisinya memanjang dari utara ke selatan, sesuai dengan tradisi arsitektur keraton di wilayah tersebut.
Bangunan ini menyimpan banyak artefak sejarah seperti keris, wayang, perlengkapan perang, dan gamelan, yang menjadi saksi bisu sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme dan kehidupan di masa lampau. Keraton ini juga menyimpan berbagai benda kuno yang memiliki nilai religius, termasuk kitab dari zaman para wali.
Di bagian dalam keraton, terdapat Ruang Jinem Prabayaksa, tempat sultan bertemu dengan tamu dan melaksanakan acara ritual. Selain itu, terdapat Pintu Selamat Tangkep yang hanya dibuka pada upacara khusus atau untuk tamu kehormatan.
Seperti halnya Keraton Kasepuhan dan Kanoman, Keraton Kacirebonan masih menjaga tradisi dan melaksanakan upacara adat, termasuk upacara Pajang Jimat. Keraton ini menjadi salah satu saksi bisu perjuangan dan sejarah panjang kota Cirebon yang berjuluk kota udang.
Bagi pengunjung yang tertarik dengan sejarah dan budaya Cirebon, Keraton Kacirebonan adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Tidak hanya untuk menyaksikan benda-benda bersejarah tetapi juga untuk merasakan atmosfer tradisi dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah