JawaPos.com–Brem merupakan jajanan jadul yang dianggap mewah pada zaman dulu. Terbuat dari fermentasi sari ketan yang kemudian dipadatkan.
Cita rasa yang muncul ketika menyantap jajanan ini terbilang unik. Bagaimana tidak, rasa yang tercipta adalah manis dan asam secara bersamaan. Bukan hanya itu, ada sensasi dingin ketika brem sudah hancur di dalam mulut.
Pada zaman penjajahan Belanda, brem merupakan makanan mewah. Pada masa itu, untuk membeli nasi saja belum bisa apalagi membeli jajanan yang belum tentu bikin perut kenyang. Ditambah, harganya yang lebih mahal daripada makanan lainnya.
Mungkin kamu penasaran sama alasan nama brem disematkan pada jajanan tersebut.
Dilansir dari dpmd.jatimprov.go.id, dalam bahasa Jawa yang semanak, mungkin karena membuat penganan yang bahan utamanya adalah sari tape ketan ini harus diperam dulu selama tujuh hari tujuh malam sebelum diproduksi, maka nama brem lantas muncul begitu saja. Peram yang dilafal peram dalam bahasa Jawa secara fonetik tak jauh dari kata brem.
Sekarang, brem sudah jarang kita jumpai. Salah satu alasannya karena proses pembuatannya terbilang cukup sulit dan memerlukan waktu yang lumayan lama sampai bisa disajikan. Penjual brem saat ini mayoritas penerus dari generasi sebelumnya.
Brem khas Majalengka bentuknya berbeda dengan daerah lahirnya brem itu sendiri, yaitu Madiun. Jika brem Madiun kebanyakan berbentuk kotak atau persegi, brem khas Majalengka berbentuk bulat dan pipih.
Namun, brem khas Majalengka yang mulai langka ini, masih bisa kamu jumpai banyak di kawasan Blok Rajakepok, Desa Bantrangsana, Kecamatan Panyingkiran, ataupun pusat oleh-oleh Majalengka.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah