JawaPos.com–Tradisi tawurji dan ngapem di Cirebon memiliki makna yang sangat mendalam dan telah berlangsung turun-temurun sejak zaman Sunan Gunung Jati. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Bulan Safar, yang dipercaya sebagian masyarakat Cirebon sebagai bulan yang penuh dengan ujian dan cobaan.
Dalam tradisi tawurji, masyarakat diajak untuk bersedekah dan berbagi rezeki dengan sesama. Hal ini diyakini dapat membersihkan harta dan mendatangkan berkah dari Allah SWT.
Sedangkan tradisi ngapem melibatkan pembuatan kue apem, yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan di bulan Safar. Kue apem ini juga dipercaya memiliki fungsi sebagai penolak bala atau kesialan, sehingga masyarakat berharap dapat terhindar dari bencana atau musibah.
Selain aspek spiritual, tradisi ini juga mencakup aspek kesehatan. Selama melaksanakan tradisi ngapem, masyarakat disarankan untuk menjaga pola makan dengan tidak mengonsumsi daging atau makanan berkarbohidrat seperti nasi dan umbi-umbian.
Mereka menggantinya dengan makanan yang lebih sehat seperti kue apem atau serabi, sebagai bentuk introspeksi diri dan menjaga kesehatan fisik. Pola makan vegetarian ini dilakukan selama 40 hari dan diyakini dapat membuat tubuh terasa lebih ringan dan pikiran menjadi lebih jernih.
Pada puncak acara, masyarakat berkumpul di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon untuk berdoa bersama, memohon perlindungan dari bencana dan musibah.
Tradisi tawurji dan ngapem ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi momen untuk memperkuat silaturahmi, introspeksi diri, dan mempererat hubungan antara keluarga keraton dengan masyarakat setempat.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah