Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Fakta Menarik di Balik Julukan Kota Angin untuk Majalengka

Rafael Milliano • Sabtu, 7 Desember 2024 | 17:00 WIB
Majalengka Kota Angin
Majalengka Kota Angin

JawaPos.com - Majalengka, yang dikenal dengan julukan "Kota Angin", menyimpan sejumlah cerita menarik yang menghubungkan alam dan budaya di balik namanya. Julukan ini bukan hanya sekadar sebutan, melainkan mencerminkan karakteristik khas daerah yang terletak di Jawa Barat ini. Lalu apa yang menyebabkan Majalengka diberikan julukan seperti itu?

Dilansir dari akun Tiktok @hadinatarahmat (7/12), Majalengka sendiri merupakan salah satu nama kabupaten yang berada di provinsi Jawa Barat. Nama majalengka berasal dari kata "Maja" yang berkorelasi dengan "buah Maja" dan "Langka" yang berkaitan dengan salah satu cerita rakyat mengenai "Nyi Rambut Kasih yang membabat pohon Maja".

Pada masa lalu, Majalengka bukanlah sebuah kabupaten seperti saat ini, melainkan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sindang Kasih. Salah satu tokoh yang berasal dari keluarga kerajaan ini adalah Nyi Rambut Kasih.

Nyi Rambut Kasih memutuskan untuk menebang habis pohon Maja di sekitar wilayah Kerajaan Sindang Kasih karena banyak warga Cirebon yang mencari buah Maja untuk keperluan pengobatan. Setelah pohon-pohon tersebut ditebang, warga Cirebon sering menyebut "Maja e Langka" saat sulit menemukan buah Maja di daerah itu. Dari sinilah kemudian nama Majalengka berasal.

Nama Majalengka sendiri mulai digunakan sejak masa kolonial Belanda dan resmi menjadi nama kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat.

Mengapa Majalengka disebut sebagai Kota Angin? Julukan ini diberikan karena angin di wilayah tersebut dikenal sangat kencang, ditambah lagi dengan lokasinya yang berada di kaki Gunung Ciremai. Kondisi ini menyebabkan perbedaan tekanan udara yang memicu hembusan angin lebih kuat.

Menurut BMKG, hembusan angin di Majalengka lebih kencang dibandingkan kota-kota tetangga seperti Kuningan dan Cirebon. Kecepatan angin di kota ini semakin meningkat saat musim kemarau, mencapai hingga 30 knot atau sekitar 56 km/jam, jauh lebih tinggi dibandingkan kecepatan angin normal yang rata-rata hanya sekitar 15 knot.

Masyarakat setempat memiliki sebutan khusus untuk angin kencang ini, seperti "angin ngagelebuk" atau "angin jalu", yang menggambarkan karakteristik angin khas Majalengka.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#KOTA ANGIN #majalengka #nama #cerita menarik