JawaPos.com - Serangan panik atau panic attack adalah bentuk gangguan kecemasan yang bisa menyerang siapa saja, termasuk remaja. Menurut GoodHealthPsych, kondisi ini muncul sebagai lonjakan rasa takut atau cemas yang muncul tiba-tiba dengan intensitas tinggi. Masa remaja yang penuh perubahan fisik dan emosional membuat kelompok usia ini lebih rentan mengalaminya.
Durasi serangan bisa berlangsung beberapa menit hingga berjam-jam, tergantung pada keparahannya dan bagaimana seseorang merespons pemicunya.
Berdasarkan AACAP.org, gejala yang dirasakan bisa berupa jantung berdebar cepat, sesak napas, hingga perasaan seperti kehilangan kendali. Karena muncul tanpa peringatan, panic attack sering kali menimbulkan rasa panik dan ketidaknyamanan yang mendalam.
Dalam beberapa kasus, serangan ini dipicu oleh tekanan seperti masalah akademik, konflik sosial, atau pengalaman traumatis. Meski tidak membahayakan nyawa, panic attack yang dibiarkan tanpa penanganan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup, khususnya bagi remaja yang masih membentuk identitas dirinya.
Dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar, ditambah bantuan profesional, sangat penting untuk membantu remaja pulih dan tetap sehat secara mental maupun emosional.
Faktor Penyebab Panic Attack:
1. Faktor Genetik
Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan kecemasan bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami panic attack.
2. Sensitivitas Emosional
Orang dengan karakter yang cenderung mudah cemas atau stres lebih rentan mengalami serangan panik, bahkan dalam situasi yang dianggap biasa oleh orang lain.
3. Gangguan Sistem Saraf
Ketidakseimbangan zat kimia otak dan sistem saraf otonom yang terlalu aktif dapat memicu respons tubuh yang berlebihan terhadap stres.
Baca Juga: 6 Cara Alami yang Ampuh dan Ramah Lingkungan untuk Mengusir Laba-Laba dari Rumah
4. Pengalaman Traumatis
Kejadian berat seperti kehilangan, kekerasan emosional, atau kecelakaan dapat meninggalkan bekas trauma yang memicu panic attack.
5. Perubahan Besar dalam Hidup
Adaptasi terhadap perubahan drastis seperti pindah rumah, kelahiran anak, atau perpisahan bisa memicu tekanan emosional tinggi.
6. Konsumsi Nikotin dan Kafein
Zat stimulan ini dapat memperparah gejala kecemasan dan bahkan memicu serangan panik.
7. Riwayat Kekerasan Fisik atau Seksual
Trauma masa lalu akibat kekerasan juga berpotensi memicu gangguan panik.
Cara Efektif Menghadapi Panic Attack:
1. Kenali Pemicunya
Memahami apa yang memicu serangan panik bisa membantu Anda lebih siap menghadapinya di kemudian hari.
2. Evaluasi Pikiran Negatif
Saat serangan datang, coba pertanyakan kembali apakah pikiran yang muncul masuk akal atau hanya dipengaruhi kecemasan sesaat.
Baca Juga: Jangan Stagnan! 5 Kebiasaan Ini Tunjukkan Anda Berhenti Belajar dan Menghindari Tantangan
3. Latihan Relaksasi dan Napas Dalam
Teknik napas dalam dan relaksasi otot dapat menenangkan tubuh saat serangan terjadi. Coba juga teknik grounding 5-4-3-2-1:
- Sebutkan 5 benda yang Anda lihat.
- Dengarkan 4 suara di sekitar Anda.
- Sentuh 3 benda dan rasakan teksturnya.
- Cium 2 aroma.
- Cicipi 1 rasa dan deskripsikan.
4. Pertimbangkan Terapi Jangka Panjang
Jika serangan panik sering terjadi, konsultasi ke psikolog atau psikiater penting dilakukan. Penanganan bisa mencakup terapi perilaku kognitif, manajemen stres, atau obat sesuai resep dokter.
Panic attack bukan hal yang bisa diabaikan, apalagi jika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan mengenali penyebab dan menerapkan langkah-langkah penanganan yang tepat, remaja bisa tetap menjalani hidup dengan sehat secara mental. Dukungan dari lingkungan dan tenaga profesional akan sangat membantu proses pemulihan. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah