JawaPos.com–Dalam ajaran Primbon Jawa, weton atau hari kelahiran memiliki pengaruh besar terhadap karakter, keberuntungan, dan jalan hidup seseorang. Lima weton, yaitu Kliwon, Pahing, Pon, Wage, dan Legi, dikenal memiliki energi istimewa yang membawa keberuntungan dalam rezeki serta kehidupan secara umum.
Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap pasaran dalam sistem pancawara memiliki karakter dan kekuatan tersendiri yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan arah kehidupan.
Dilansir dari YouTube Primbon Cirebon, Minggu (2/3), berikut adalah penjelasan mengenai rahasia keberuntungan dan keistimewaan dari lima pasaran weton menurut Primbon Jawa.
- Weton Legi
Dalam Primbon Jawa, weton Legi memiliki neptu 5 dan berunsur elemen kayu atau udara. Orang yang lahir pada pasaran ini memiliki kepribadian optimis, penuh semangat, dan banyak keinginan. Energi optimisme ini dapat menjadi pisau bermata dua—membawa keberuntungan atau justru menghancurkan diri sendiri jika tidak dikelola dengan baik.
Pasaran Legi dikendalikan cakra seks langit yang melambangkan kekuatan keinginan dan ambisi. Oleh sebab itu, orang dengan weton Legi harus memiliki fokus dan kedisiplinan agar rencana besar mereka dapat terlaksana dengan sukses. Selain itu, weton Legi membutuhkan seorang pemimpin atau pengendali yang baik agar potensinya dapat berkembang secara maksimal.
- Weton Pahing
Weton Pahing memiliki elemen api dan neptu 9, yang mencerminkan semangat tinggi, kedermawanan, dan jiwa kepemimpinan. Dalam sistem pancawara, Pahing dilindungi Malaikat Mikail yang bertugas memberikan kemakmuran.
Karena memiliki energi api yang besar, orang dengan weton Pahing sering kali menjadi sosok yang royal dan suka berbagi rezeki. Namun, sifat agresifnya harus dikendalikan agar tidak berlebihan dan merugikan diri sendiri. Keseimbangan antara semangat dan kebijaksanaan dalam bertindak menjadi kunci keberuntungan bagi orang yang lahir di pasaran Pahing.
- Weton Pon
Pasaran Pon memiliki neptu 7 dengan elemen logam, yang mencerminkan karakter tegas, disiplin, dan selalu bertindak terarah. Pasaran ini dipercaya sebagai pemegang segel cakra dasar langit yang berperan dalam menciptakan stabilitas dan kekuatan mental seseorang.
Karena dipengaruhi oleh elemen logam, weton Pon memiliki daya tahan tinggi terhadap berbagai tantangan hidup. Namun, kelemahannya terletak pada urusan asmara dan emosional yang sering kali kurang stabil. Oleh karena itu, orang dengan weton Pon disarankan untuk lebih banyak belajar spiritual agar mampu mengendalikan diri dan mencapai kesuksesan yang lebih besar.
- Weton Wage
Weton Wage memiliki neptu 4 dan berelemen air, yang menjadikannya sebagai pribadi yang cerdas, analitis, dan strategis. Pasaran ini dikuasai oleh cakra ajna langit, yang melambangkan kebijaksanaan dan kecerdasan.
Dalam Primbon Jawa, orang dengan weton Wage dikenal memiliki pemikiran yang realistis dan mampu mengendalikan situasi dengan baik. Mereka juga pandai dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga sering menjadi penasihat atau pemimpin yang bijaksana. Namun, tanpa pengendalian spiritual, weton Wage bisa menjadi terlalu bebas dan sulit diatur. Oleh karena itu, mereka perlu memiliki keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas agar tetap berada di jalur yang benar.
- Weton Kliwon
Weton Kliwon memiliki neptu 8 dan berelemen tanah, yang menjadikannya sebagai pemegang segel cakra mahkota langit. Orang yang lahir pada pasaran ini memiliki karakter kuat, kokoh dalam pendirian, dan sering kali menjadi pemimpin yang disegani.
Pasaran Kliwon dipercaya sebagai pusat energi spiritual yang mampu menyerap dan menyimpan potensi dari keempat pasaran lainnya. Mereka memiliki sisi kepemimpinan dari Pon, optimisme dari Legi, kecerdasan dari Wage, dan cinta kasih dari Pahing. Namun, jika potensi negatifnya muncul, orang dengan weton Kliwon bisa menjadi keras kepala dan sulit diarahkan.
Kunci keberuntungan bagi weton Kliwon terletak pada keseimbangan cinta dan kerendahan hati. Dengan memiliki cinta kasih dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, pasaran Kliwon dapat mengeluarkan seluruh potensinya untuk kebaikan banyak orang.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah