Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

7 Ungkapan yang Dianggap Keren dan Cerdas, tapi Sebenarnya Malah Bikin Nggak Nyambung!

Arsyad Dena Mukhtarom • Kamis, 27 Februari 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang ingin terlihat pintar. (Pexels/Lisa Fotios)
Ilustrasi seseorang yang ingin terlihat pintar. (Pexels/Lisa Fotios)

JawaPos.com - Pernah nggak kamu denger orang ngomong dengan kata-kata yang ribet, padahal maksudnya sesederhana "gue pakai ini, lo pakai itu"?

Kadang, orang pakai bahasa yang berbelit-belit cuma buat kesan keren dan pintar, padahal realitanya malah jadi nggak nyambung.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (26/02), berikut ulasan tentang tujuh ungkapan yang kerap dipakai demi gaya, padahal esensinya sebenarnya simpel dan nggak perlu dibuat ribet.

1. "Utilize" Alih-alih "Gunakan"

Ngomongin soal “utilize”, sebenernya sih cukup pakai “gunakan” aja, bro! Kenapa repot-repot milih kata yang berat kalau maksudnya nggak berubah? Inti komunikasi itu harus jelas, nggak usah diselubungi bahasa yang bikin otak mumet. Jadi, daripada ribet, mending langsung aja ke inti pesan.

2. "Menurut Pendapat Saya" yang Terlalu Digarap

Kita pernah denger, “menurut pendapat saya…” Sebuah pembuka yang terdengar sopan, tapi sering kali jadi trik buat menutupi ketidaktegasan. Kadang orang pakai itu sebagai alasan buat nggak bertanggung jawab sama pendapatnya. Lebih baik, sampaikan pendapat dengan bahasa yang lugas dan natural, tanpa harus bikin formalitas yang bikin suasana jadi kaku.

3. Bahasa Latin Zaman Dulu: Ergo, Henceforth, Herewith

Coba deh bayangin lagi lagi ngobrol santai sama temen, tiba-tiba ada yang nyelipin kata “ergo” atau “herewith”. Rasanya jadi kaya lagi denger dosen ngomong tentang zaman Romawi, ya nggak? Ungkapan-ungkapan itu emang keren buat tulisan resmi atau skripsi, tapi buat ngobrol sehari-hari, lebih enak pakai bahasa yang lebih gaul dan deket di hati.

4. "Double-Edged Sword" yang Udah Klise

Ungkapan “double-edged sword” sering banget dipakai buat gambarin situasi yang punya dua sisi—positif dan negatif. Masalahnya, kalau udah sering dipake, artinya jadi hambar dan klise. Mending, coba cari cara lain buat ngejelasin kondisi yang kompleks itu dengan gaya bahasa yang lebih fresh dan nyambung sama kehidupan sehari-hari.

5. "Per se" yang Terlalu Formal

"Per se" terdengar canggih karena bahasa Latin, tapi maknanya “pada dasarnya” atau “sendirian”. Kenapa harus dipaksa pakai ungkapan asing kalau kita punya bahasa Indonesia yang simpel? Gunakan bahasa yang lebih akrab supaya pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan nggak bikin pendengar merasa sedang diajarin pelajaran formal.

6. "I Beg to Differ" yang Terlalu Pura-Pura Sopan

Beda pendapat itu wajar, tapi ungkapan “I beg to differ” kadang terdengar terlalu dibuat-buat, seolah-olah kamu pengin pamer kesopanan sambil ngerendahin pendapat orang lain. Mending ungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang santai dan langsung, tanpa harus bikin gaya yang malah terkesan sok pintar.

7. "For All Intents and Purposes" yang Ribet

Terakhir, “for all intents and purposes” sebenarnya maksudnya “pada dasarnya”. Tapi di obrolan sehari-hari, ungkapan ini cuma nambah beban bahasa yang nggak perlu. Kenapa nggak langsung aja pakai kata-kata yang lebih sederhana? Intinya, yang penting pesan tersampaikan dengan jelas tanpa bikin pendengar harus mikir keras.

Intinya, tampil pintar nggak harus selalu pakai ungkapan-ungkapan ribet yang bikin suasana jadi formal dan jauh dari keseharian. Lebih baik pakai bahasa yang natural, jelas, dan nyambung, supaya obrolan tetap hidup dan mudah dipahami. Yuk, tunjukkan kecerdasan kita dengan cara yang simpel tapi efektif! (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#cerdas #keren #pintar #Ungkapan