Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Pemkab Kuningan Terapkan Pengendalian Hama Berbasis Ekosistem

Antara • Kamis, 7 Mei 2026 | 18:41 WIB
Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah memberikan edukasi kepada petani terkait pengendalian hama berbasis ekosistem. (Antara)
Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah memberikan edukasi kepada petani terkait pengendalian hama berbasis ekosistem. (Antara)

 

JawaPos.com–Pemerintah Kabupaten Kuningan menerapkan pengendalian hama penggerek batang padi berbasis ekosistem untuk menekan potensi kehilangan hasil panen pada musim tanam (MT) 2026 sejak fase awal pertumbuhan tanaman.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan Wahyu Hidayah mengatakan, langkah tersebut dilakukan melalui gerakan pengendalian (gerdal) hama penggerek batang padi secara terpadu di tingkat lapangan.

”Kami mendorong petani mengedepankan pengamatan rutin, menjaga keseimbangan ekosistem, serta memanfaatkan musuh alami sebagai lini pertahanan utama sebelum intervensi kimia dilakukan,” kata Wahyu Hidayah dilansir dari Antara.

Baca Juga: Dinkes Cirebon Gencarkan ORI Guna Cegah Penyebaran Kasus Campak

Dia menyebutkan, kegiatan pengendalian sudah dilaksanakan di areal persawahan Kelompok Tani Kalimati, Kecamatan Maleber, Kuningan dengan cakupan lahan mencapai 20 hektare. Tanaman padi yang menjadi sasaran pengendalian terdiri atas varietas Inpari, Ciherang dan varietas lokal dengan usia tanaman sekitar 21-35 hari setelah tanam (HST).

Wahyu menjelaskan, hasil pengamatan lapangan menunjukkan intensitas serangan penggerek batang di lokasi tersebut tercatat mencapai 10-18 persen. Sehingga diperlukan langkah pengendalian cepat dan terukur guna mencegah perluasan serangan.

Dia menyebutkan penggunaan insektisida tetap menjadi bagian dari strategi pengendalian, namun diterapkan secara selektif dan terukur.

Baca Juga: Pemkab Kuningan Kembangkan Kelapa Jadi Komoditas Unggulan Daerah

”Pendekatan ini penting agar pengendalian efektif sekaligus mencegah resistensi hama dan menjaga keberlanjutan lingkungan pertanian,” ujar Wahyu Hidayah.

Selain pengendalian kimia, kata dia, strategi yang diterapkan juga mencakup pengendalian mekanis dan kultur teknis. Seperti pengaturan air secara intermiten, sanitasi lahan, serta pencabutan tanaman terserang untuk memutus siklus hama.

Dia mengatakan pendekatan berbasis ekosistem dinilai efektif karena di lokasi pengamatan, masih ditemukan keberadaan musuh alami yang berpotensi menekan populasi hama secara alami.

”Data lapangan menunjukkan populasi musuh alami jenis Lycosa sp. mencapai 0,36 ekor per rumpun dan Paederus sp. sebesar 0,13 ekor per rumpun,” kata Wahyu Hidayah.

Wahyu menegaskan keberhasilan pengendalian hama tidak berhenti pada pelaksanaan gerdal. Namun harus diikuti pemantauan berkelanjutan sebagai bagian dari sistem peringatan dini.

”Keterlibatan petani, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menekan potensi kehilangan hasil panen sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika serangan hama,” ucap Wahyu Hidayah.

Baca Juga: Anggota DPR: Inovasi Garam Kristal di Indramayu Layak Dikembangkan

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#pertanian #musim tanam #kabupaten kuningan