Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Kemitraan Pemkab Kuningan-BNGi untuk Pengembangan Bioprospeksi

Antara • Senin, 9 September 2024 | 17:52 WIB
Kepala DKPP Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menandatangani program kemitraan pengembangan bioprospeksi di TNGC, Kuningan. (Antara)
Kepala DKPP Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menandatangani program kemitraan pengembangan bioprospeksi di TNGC, Kuningan. (Antara)

JawaPos.com–Pemerintah Kabupaten Kuningan menjalin kemitraan dengan Bogor Nature Indonesia (BNGi) untuk pengembangan bioprospeksi yang bisa diterapkan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

”Kami sudah siap untuk berkolaborasi dalam pengembangan bioprospeksi di TNGC, khususnya di Kuningan untuk meningkatkan sektor pertanian,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah seperti dilansir dari Antara di Kuningan.

Dia menjelaskan, bioprospeksi merupakan proses pencarian dan pemanfaatan sumber daya hayati. Terutama sumber daya genetik serta materi biologi lain untuk kepentingan komersial.

Bioprospeksi, kata dia, dapat membantu tanaman lebih tahan terhadap kekurangan air. Sehingga produktivitas pertanian di lahan tadah hujan pada kawasan TNGC bisa meningkat. Dengan bioprospeksi, bahan aktif dari tanaman liar dan mikroba dapat digunakan untuk memperkuat ketahanan tanaman terhadap hama, penyakit, atau kondisi lingkungan yang ekstrem.

”Bioprospeksi dapat dimanfaatkan untuk pertanian, seperti mikroorganisme yang bisa digunakan untuk membuat pupuk biologis dan pestisida ramah lingkungan. Hal ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetik yang selama ini digunakan,” ujar Wahyu Hidayah.

Apabila program itu berjalan efektif di TNGC, lanjut dia, DKPP Kabupaten Kuningan berencana melakukan pengembangan bioprospeksi di wilayah lain. Seperti daerah Cibingbin yang sering mengalami keterbatasan air.

”Program bioprospeksi menjadi solusi inovatif dan berkelanjutan dalam mengatasi berbagai tantangan pertanian di Kabupaten Kuningan,” ungkap Wahyu Hidayah.

Dia menjelaskan Kabupaten Kuningan sudah menerapkan teknologi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) di 15 desa di enam kecamatan dengan luas lahan lebih dari 100 hektare. PGPR yang digunakan pada lahan pertanian itu, berasal dari pemanfaatan bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens.

”Kehadiran bioprospeksi nanti sebagai pembanding PGPR untuk melihat mana yang lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas pertanian,” tutur Wahyu Hidayah.

Kepala BNGi Hadi S Alikodra mengatakan, program pengembangan bioprospeksi di TNGC guna menemukan potensi biologis dari tanaman, mikroorganisme, atau organisme lain, yang dimanfaatkan untuk berbagai industri. Termasuk sektor pertanian. Pengembangan bioprospeksi harus dilakukan dengan hati-hati dan bertanggung jawab agar tidak merusak ekosistem.

”Bioprospeksi tidak hanya untuk menemukan komponen baru dengan nilai ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya hayati melalui aspek konservasi dan keberagaman biologis,” ujar Hadi S Alikodra.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#kuningan #TNGC #dkpp #Bioprospeksi #gunung ciremai