JawaPos.com - Bek kanan Timnas Indonesia, Sandy Walsh, resmi bergabung dengan Liga Jepang (J-League) sekitar sebulan yang lalu. Ia diperkenalkan sebagai pemain baru Yokohama F. Marinos pada 9 Februari 2025.
Dilansir dari YouTube The Haye Way, Sandy tampak menceritakan pengalamannya di sana dalam podcast The Haye Way yang salah seorang host-nya juga merupakan pemain Timnas, Thom Haye.
Menariknya, Thom Haye juga menyatakan bahwa ia tertarik dengan Liga Jepang. Thom mengatakan bahwa J-League merupakan salah satu liga terbaik di Asia. Dari apa yang ia lihat, level yang ada disana cukup tinggi.
Ia juga sering berbincang sebelumnya dengan Sandy terkait Liga Jepang.
"Saya mengirimkan pesan kepadanya (Sandy), bisa saya katakan mungkin sebuah mimpi kecil untuk bermain di Jepang suatu hari nanti. Kami juga banyak membicarakannya, jadi saya mengiriminya pesan ketika akhirnya mendapat kabar itu (kepindahan Sandy ke Yokohama)," ucap Thom.
Senada dengan rekannya di Timnas, Sandy juga menyatakan bahwa bermain di Jepang merupakan salah satu keinginannya. Ia mengungkap bahwa ketertarikannya dengan J-League mulai tumbuh saat bermain melawan Jepang di Piala Asia.
"Tentu saja Anda ingin mencapai prestasi setinggi mungkin di Eropa. Namun seiring usia, kadang kamu ingin merasakan karier di liga yang berbeda, budaya yang berbeda. Pilihannya selalu antara MLS atau pergi ke Asia," ujar Sandy.
"Saya menyadari sejak Piala Asia ketika melawan Jepang di Qatar. Dan sejak tahun itu, saya mulai mengikuti klub-klub J-League, bertanya ke beberapa teman Jepang tentangnya. Lama-kelamaan itu tumbuh seperti mimpi," tambahnya kembali.
Perbedaan J-League dengan Liga di Eropa
Thom Haye terlihat penasaran tentang perbedaan Liga Jepang dengan Liga di Eropa. Gelandang Timnas Indonesia tersebut bertanya pendapat Sandy tentang hal tersebut.
"Apakah Anda merasakan perbedaan, misalnya dengan Belgia? Saya pikir Belgia adalah liga yang rata-rata bagus di Eropa," tanya Thom kepada Sandy.
Bek kanan berusia 29 tahun itu pun menjelaskan bahwa di Jepang, intensitas permainan sangat cepat.
Baca Juga: 7 Siasat Diet saat Berpuasa Menurut Ade Rai, Salah Satunya Jangan Makan Karbo
"Mereka melakukan segalanya dengan intensitas tinggi. Bukan bermaksud mengatakan bahwa Belgia atau Belanda tidak, tapi saya hanya berpikir secara teknis ini liga yang sangat tinggi," tutur Sandy.
Menurut Sandy, Liga Jepang tidak jauh berbeda dengan Belanda (Eredivisie). Hal tersebut yang juga membuatnya merasa menemukan alasan mengapa pemain Jepang dapat beradaptasi dengan baik di Eredivisie.
Meski dituntut teknik yang baik dan intensitas yang tinggi selama bermain di Jepang, Sandy bersyukur bahwa ia bisa beradaptasi dengan baik. Namun, ia tetap terkejut dengan tingginya level permainan disana.
Masalah tentang bagaimana budaya sepak bola di Jepang juga dibahas dalam podcast. Seperti yang diketahui, muncul kekhawatiran dari suporter Indonesia ketika Sandy pindah ke sana.
Hal ini merujuk pada pengalaman Justin Hubner dan Stefano Lilipaly yang sebelumnya tidak mendapat menit di J-League. Suporter Indonesia menganggap tim-tim Jepang lebih mengandalkan pemain lokal. Klub J-League juga dianggap hanya memanfaatkan popularitas pemain Indonesia saja.
Sandy mengaku beruntung bisa datang ke klub yang cukup multikultural. Ia menjelaskan bahwa selain dirinya, juga ada staf dan pemain asing lain di tim tersebut.
"Kami punya pelatih asal Inggris dan asisten pelatih asal Australia. Kami juga punya tiga pemain Brasil, satu Kolombia, satu Australia, dan satu Indonesia. Jadi, tim lain memang ada yang sepenuhnya Jepang," kata Sandy.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah