Sabtu, 18 Juli 2026
Logo

DKP3 Cirebon Kembangkan Urban Farming Terpadu di Lahan Sempit

Senin, 13 Apr 2026 | 22:48 WIB
Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh. (Fathnur Rohman/Antara)
Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh. (Fathnur Rohman/Antara)

 

JawaPos.com–Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon mengembangkan program urban farming terpadu. Itu dilakukan dengan mengombinasikan aktivitas budi daya tanaman, ayam petelur, serta perikanan di lahan sempit.

Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh mengatakan, program tersebut menjadi strategi menghadapi keterbatasan lahan pertanian yang kini tersisa kurang dari 94 hektare di daerahnya. Pihaknya membuat konsep budi daya yang unik untuk menarik minat masyarakat, salah satunya dengan memberi nama pada ayam petelur serta melengkapi pencatatan produksi dan kesehatan ternak.

”Kami memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan kandang agar tetap bersih dan tidak menimbulkan bau, termasuk penggunaan kapur sebagai salah satu cara menjaga lingkungan,” kata Elmi Masruroh dilansir dari Antara.

Dia menyampaikan program tersebut dirancang agar mudah diterapkan, tidak rumit, dan tetap nyaman dijalankan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk. Program urban farming ini, mulai diadopsi masyarakat, termasuk di tingkat kelurahan yang membangun kandang ayam petelur secara swadaya melalui iuran warga setelah mendapat pendampingan dari DKP3.

”Kami terus melakukan pendampingan melalui petugas lapangan, mulai dari pemberian pakan, perawatan, hingga vaksinasi dan pengobatan ternak,” ungkap Elmi Masruroh.

Elmi menuturkan terdapat kelompok binaan peternak ayam petelur di Kelurahan Kalijaga dan Argasunya, masing-masing dengan sekitar 600 ayam dari bantuan Kementerian Pertanian yang kini telah berproduksi setiap hari.

Selain itu, pihaknya mengembangkan proyek percontohan skala kecil dengan 17 ayam petelur yang dikelola secara swadaya oleh internal pegawai DKP3 untuk memahami langsung kendala di lapangan.

”Dari 17 ekor ayam bisa menghasilkan hingga 17 butir telur per hari, bahkan pernah mencapai produksi penuh,” ujar Elmi Masruroh.

Dia menyebutkan biaya awal pengembangan skala rumah tangga berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sudah termasuk kandang, ayam, dan pakan awal, sehingga relatif terjangkau bagi masyarakat.


Artikel Terkait

Pemkot Cirebon Libatkan Lintas Sektor Guna Tekan Stunting

Pemkot Cirebon Libatkan Lintas Sektor Guna Tekan Stunting

Pemkot Cirebon melibatkan berbagai pihak lintas sektor untuk mempercepat penurunan angka stunting pada 2026 melalui penguatan kolaborasi dan intervensi terintegrasi

Pemkot Cirebon Hadirkan 11 SPKLU Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Pemkot Cirebon Hadirkan 11 SPKLU Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Pemkot Cirebon menghadirkan 11 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah aset daerah untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik

Kemenhaj Sebut 2.576 Calon Haji Asal Cirebon Siap Berangkat dari Kertajati

Kemenhaj Sebut 2.576 Calon Haji Asal Cirebon Siap Berangkat dari Kertajati

Kemenhaj Kabupaten Cirebon mencatat sebanyak 2.576 calon jamaah haji siap diberangkatkan pada musim haji 2026. Mereka berangkat melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Jawa Pos Digitalhttps://digital.jawapos.com
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia