Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

7 Perilaku Orang yang Sebenarnya Sangat Egois tapi Tidak Menyadarinya, Hati-Hati Terjebak!

Lania Monica • Selasa, 4 Maret 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi orang yang sangat egois. (freepik)
Ilustrasi orang yang sangat egois. (freepik)

JawaPos.com - Beberapa orang memiliki sifat yang sangat egois, tetapi mereka sendiri tidak menyadarinya. Mereka tidak melihat bagaimana tindakan mereka memengaruhi orang lain dan sering kali merasa bahwa mereka hanya menjaga kepentingan diri sendiri dengan cara yang wajar.

Namun, kenyataannya, sikap ini dapat menjauhkan mereka dari orang-orang terdekat dan menimbulkan frustrasi dalam hubungan. Yang membuatnya sulit dikenali adalah bahwa sifat egois tidak selalu terlihat jelas. Tidak selalu berupa keserakahan atau keangkuhan, tetapi bisa tersembunyi dalam kebiasaan dan sikap sehari-hari.

Jika Anda pernah merasa seseorang dalam hidup Anda—atau bahkan diri Anda sendiri—mungkin lebih egois daripada yang disadari, berikut adalah tujuh perilaku yang perlu diwaspadai.

Dilansir dari laman Geediting, Senin (03/3), berikut adalah tanda-tanda seseorang bersikap egois tanpa menyadarinya:

1. Mereka Selalu Membicarakan Diri Sendiri dalam Setiap Percakapan

Pernahkah Anda berbicara dengan seseorang yang selalu mengubah topik kembali ke diri mereka sendiri, apa pun yang sedang Anda bahas?

Anda mungkin berbagi cerita pribadi atau meminta saran, tetapi alih-alih mendengarkan, mereka langsung menyela dengan pengalaman mereka sendiri—atau lebih buruk lagi, berusaha unggul dari Anda.

Perilaku seperti ini sering kali dilakukan oleh orang-orang yang tidak menyadari betapa egonya mereka. Mereka mungkin mengira bahwa mereka hanya berbagi atau berusaha membuat diri mereka lebih relevan dalam percakapan, tetapi kenyataannya, mereka justru mendominasi pembicaraan tanpa menyadarinya.

Orang yang benar-benar peduli tahu cara menyeimbangkan percakapan. Mereka mendengarkan, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan ketertarikan yang tulus pada apa yang dikatakan orang lain.

2. Mereka Jarang Memikirkan Dampak Tindakan Mereka terhadap Orang Lain

Saya pernah memiliki teman yang selalu membatalkan rencana di menit-menit terakhir. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi sudah menjadi pola.

Dia akan setuju untuk bertemu, saya pun menyisihkan waktu, bahkan kadang mengatur ulang jadwal saya, hanya untuk mendapatkan pesan satu jam sebelum pertemuan: "Maaf, aku nggak mood keluar hari ini. Lain kali aja ya!"

Awalnya, saya mencoba memahami. Mungkin dia sedang stres atau ada sesuatu yang terjadi. Namun, setelah berulang kali terjadi, saya menyadari bahwa dia hanya tidak mempertimbangkan bagaimana tindakannya memengaruhi saya.

Baca Juga: Nyeri Menstruasi Mengganggu? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Orang yang tidak menyadari bahwa mereka egois sering kali melakukan hal semacam ini. Mereka mungkin tidak bermaksud menyakiti orang lain, tetapi keputusan mereka sering kali membuat frustrasi dan mengecewakan orang di sekitar mereka.

3. Mereka Sulit Merayakan Keberhasilan Orang Lain

Saat sesuatu yang baik terjadi pada teman atau kolega, kebanyakan orang akan ikut bahagia. Namun, orang yang egois tanpa disadari sering bereaksi berbeda.

Alih-alih ikut merayakan, mereka cenderung meremehkan pencapaian tersebut, mengalihkan fokus ke diri mereka sendiri, atau bahkan merasa iri. Mereka mungkin berkata, "Pasti enak kalau punya keberuntungan seperti itu," atau langsung menceritakan kisah sukses mereka sendiri.

Psikologi membedakan dua jenis iri hati: benign envy (iri yang sehat, yang bisa memotivasi seseorang) dan malicious envy (iri yang beracun, yang menimbulkan kepahitan). Orang yang kesulitan merayakan kesuksesan orang lain sering kali mengalami iri yang kedua, meskipun mereka tidak menyadarinya.

Orang yang benar-benar murah hati bukan hanya memberi, tetapi juga mampu berbagi kebahagiaan dengan orang lain tanpa merasa kehilangan sesuatu.

4. Mereka Mengharapkan Orang Lain Selalu Menyesuaikan Diri dengan Mereka

Beberapa orang selalu tampak mendapatkan apa yang mereka inginkan—bukan karena mereka meminta secara langsung, tetapi karena mereka mengharapkan orang lain untuk beradaptasi dengan kebutuhan mereka.

Mereka memilih restoran, menentukan jadwal, dan mengasumsikan bahwa semua orang akan mengikuti keinginan mereka. Jika rencana tidak sesuai dengan mereka, mereka tidak ragu meminta perubahan. Tetapi, ketika orang lain membutuhkan fleksibilitas, mereka tiba-tiba menjadi kurang kooperatif.

Perilaku seperti ini sering kali tidak terlihat jelas sebagai tanda egoisme karena tidak berbentuk tuntutan. Sebaliknya, itu tampak seperti kebiasaan atau preferensi. Namun, dalam jangka panjang, hal ini menciptakan hubungan yang tidak seimbang di mana kebutuhan satu orang selalu diutamakan, sementara orang lain harus menyesuaikan diri.

Hubungan yang sehat—baik itu persahabatan, keluarga, atau pekerjaan—membutuhkan keseimbangan. Jika seseorang selalu mengharapkan segala sesuatu berputar di sekitar mereka, itu adalah tanda jelas bahwa mereka egois, bahkan jika mereka tidak menyadarinya.

5. Mereka Mengabaikan Perasaan Orang Lain

Sangat mengecewakan ketika Anda berbagi sesuatu yang mengganggu Anda, tetapi orang lain malah meremehkannya.

Alih-alih mendengarkan dan memahami, mereka mungkin berkata, "Kamu terlalu berlebihan," atau "Itu bukan masalah besar." Kadang, mereka bahkan menyalahkan Anda: "Kalau kamu nggak melakukan itu, pasti ini nggak akan terjadi."

Baca Juga: Pendaki Gunung Wajib Tahu! Begini Cara Mencegah, Mengenali Gejala, dan Pertolongan Pertama Hipotermia

Jika ini terus terjadi, Anda mungkin mulai meragukan apakah perasaan Anda valid. Anda mungkin berhenti berbicara tentang masalah Anda karena tahu mereka tidak akan peduli.

Orang yang sering melakukan ini biasanya tidak melihat diri mereka sebagai egois. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka sedang bersikap rasional atau memberikan tough love. Tetapi sebenarnya, mereka hanya menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan emosi orang lain.

6. Mereka Hanya Menghubungi saat Butuh Sesuatu

Pernah punya teman yang tiba-tiba menghubungi Anda setelah lama menghilang—hanya untuk meminta bantuan?

Mereka tidak pernah bertanya bagaimana kabar Anda, tidak pernah berusaha menjaga hubungan, tetapi ketika mereka butuh saran, koneksi, atau bantuan, mereka tiba-tiba muncul. Dan setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan? Mereka menghilang lagi sampai butuh sesuatu berikutnya.

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka hanya menjalin hubungan secara transaksional. Tetapi kenyataannya, hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kepedulian dan rasa hormat, bukan hanya kenyamanan semata.

7. Mereka Jarang Meminta Maaf—atau Meminta Maaf Tanpa Makna

Orang yang benar-benar egois sulit untuk meminta maaf dengan tulus.

Mereka mungkin menghindari permintaan maaf sama sekali atau mengatakannya dengan cara yang tidak menunjukkan tanggung jawab. Misalnya, bukannya berkata, "Maaf aku telah menyakitimu," mereka mengatakan, "Maaf kamu merasa begitu."

Alih-alih mengakui kesalahan mereka, mereka mencari alasan atau menyalahkan keadaan. Kadang, mereka bahkan bertindak seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi.

Permintaan maaf bukan sekadar formalitas, tetapi tanda kesadaran diri dan penghormatan terhadap hubungan. Jika seseorang tidak bisa meminta maaf dengan tulus, itu menunjukkan bahwa mereka lebih mementingkan ego daripada menjaga hubungan yang sehat.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#egois #tanda seseorang bersikap egois #sikap #sifat