JawaPos.com - Ada beberapa ungkapan yang kerap digunakan oleh pria dengan kemampuan komunikasi yang kurang baik. Meskipun terdengar sepele, kata-kata ini sebenarnya dapat berdampak besar dalam sebuah percakapan.
Dilansir dari geediting.com pada Selasa (25/02), berikut delapan ungkapan yang sering digunakan pria dengan kemampuan komunikasi rendah, beserta penjelasan dan cara mengatasinya agar interaksi menjadi lebih baik.
1. "Tenang Dulu"
Pernah nggak, kamu mendengar seseorang disuruh "tenang dulu" di tengah situasi yang penuh emosi? Ungkapan ini sering kali digunakan untuk meredakan ketegangan, namun sebenarnya justru membuat perasaan lawan bicara jadi terabaikan. Saat seseorang sedang marah atau sedih, mendengar "tenang dulu" bisa membuatnya merasa tidak didengarkan dan malah menambah frustrasi.
Menurut penelitian, mengakui perasaan orang lain jauh lebih efektif daripada langsung menyuruh untuk tenang. Daripada mengucapkan "tenang dulu", cobalah mengatakan, "Aku paham kamu lagi kesal, mau cerita apa yang terjadi?" Dengan begitu, kamu membuka ruang bagi lawan bicara untuk mengekspresikan perasaannya tanpa merasa dihakimi.
Baca Juga: 4 Destinasi Wisata Murah di Cirebon yang Bikin Liburan Berkesan Tanpa Harus Menguras Dompet!
2. "Entahlah, Gak Usah Dipikirin"
Ungkapan "entahlah, gak usah dipikirin" sering muncul ketika seseorang ingin menghindari diskusi yang mendalam. Meskipun terdengar santai, kata-kata ini bisa membuat orang merasa bahwa masalahnya dianggap sepele. Saat kamu mengucapkannya, lawan bicara bisa merasa bahwa perasaannya tidak penting dan diabaikan.
Penelitian psikologi menyebut cara ini sebagai bentuk penutupan diri atau stonewalling, di mana seseorang menarik diri dari komunikasi. Sebaiknya, daripada berkata "gak usah dipikirin", kamu bisa mengatakan, "Aku butuh waktu untuk mikir, nanti kita bahas lagi, ya?" Dengan cara itu, kamu tetap menunjukkan bahwa kamu peduli dan akan kembali membicarakan masalah tersebut secara bijak.
3. "Kamu Kebanyakan Pikir"
Sering kali, ketika seseorang merasa cemas atau ragu, ada yang berkata "kamu kebanyakan pikir". Meskipun terdengar sebagai saran, ungkapan ini bisa membuat orang merasa bahwa kekhawatirannya dianggap tidak beralasan. Ketika kamu mengatakan hal tersebut, seolah-olah kamu mengabaikan perasaan yang sedang dirasakannya.
Alih-alih menolak perasaan tersebut, cobalah mendengarkan dengan penuh perhatian. Misalnya, kamu bisa berkata, "Aku ngerti kamu lagi banyak mikir, mau cerita apa yang membuat kamu khawatir?" Dengan begitu, kamu membantu lawan bicara untuk menenangkan pikirannya sambil merasa didengarkan dengan baik.
Baca Juga: Bukan Kebetulan! Inilah 7 Kebiasaan yang Dimiliki Hampir Semua Orang Sukses
4. "Aku Cuma Jujur"
Ungkapan "aku cuma jujur" kerap dipakai sebagai alasan ketika kata-kata yang diucapkan terdengar tajam atau kurang lembut. Meskipun kejujuran itu penting, cara penyampaiannya harus disesuaikan agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Mengatakan "aku cuma jujur" bisa membuat lawan bicara merasa bahwa perasaan mereka diabaikan.
Sebagai alternatif, cobalah untuk menyampaikan kejujuran dengan lebih empati. Misalnya, kamu bisa berkata, "Aku ingin jujur dengan kamu, tapi maaf jika kata-kataku kurang enak didengar." Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kamu menghargai perasaan lawan bicara sekaligus tetap bersikap terbuka.
5. "Gak Mau Bahas Itu"
Saat topik mulai terasa berat atau emosional, ungkapan "gak mau bahas itu" sering kali muncul sebagai cara untuk menghindari percakapan. Ungkapan ini bisa membuat orang merasa ditolak atau bahwa masalah yang dihadapi tidak dianggap penting. Ketika kamu mengucapkannya, lawan bicara bisa merasa bahwa perasaannya tidak mendapat perhatian yang layak.
Daripada menutup percakapan secara tiba-tiba, cobalah mengungkapkan bahwa kamu membutuhkan waktu. Misalnya, kamu bisa mengatakan, "Aku lagi nggak siap bahas ini sekarang, tapi nanti kita bisa bicarakan lagi, ya?" Dengan cara ini, kamu tetap menunjukkan bahwa kamu peduli, meskipun memang membutuhkan waktu untuk mengumpulkan perasaanmu.
Baca Juga: Dari Koleksi Bangkok hingga Korea, Ini 7 Rekomendasi Toko Fashion di Cirebon yang Wajib Dikunjungi!
6. "Itu Biasa Saja"
Ungkapan "itu biasa saja" sering dipakai untuk menolak kritik atau masukan yang mungkin sebenarnya berguna untuk perbaikan diri. Dengan mengatakan hal ini, kamu seolah menolak untuk mendengarkan pendapat orang lain, yang bisa menghambat pertumbuhan pribadi. Ungkapan tersebut bisa membuat lawan bicara merasa bahwa kekhawatirannya tidak dianggap serius.
Sebagai gantinya, cobalah untuk menerima kritik dengan sikap terbuka. Misalnya, kamu bisa berkata, "Aku paham maksudmu, aku akan coba perbaiki hal ini." Dengan begitu, kamu menunjukkan bahwa kamu peduli dan bersedia untuk berkembang, yang pada akhirnya akan memperkuat hubungan dengan orang di sekitarmu.
7. "Kamu Terlalu Sensitif"
Mengatakan "kamu terlalu sensitif" cenderung membuat orang merasa bahwa perasaannya tidak valid atau berlebihan. Ungkapan ini sering kali mengalihkan fokus dari masalah sebenarnya ke sifat pribadi, sehingga membuat lawan bicara merasa disalahpahami. Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda, tergantung pengalaman dan kepribadiannya.
Daripada mengucapkan ungkapan tersebut, cobalah untuk menunjukkan empati dengan cara bertanya, "Aku minta maaf kalau aku membuatmu merasa seperti itu, bisa ceritain apa yang kamu rasain?" Dengan cara ini, kamu membuka ruang untuk diskusi yang lebih mendalam dan membantu lawan bicara merasa dihargai serta dipahami.
Baca Juga: Danantara Resmi Diluncurkan, Rosan Roeslani Tegaskan Transparansi dan Integritas dalam Pengelolaan Investasi
8. "Gak Sebesar Itu"
Ungkapan "gak sebesar itu" sering digunakan untuk meremehkan masalah yang sebenarnya dianggap penting oleh orang lain. Meskipun bagi kamu hal tersebut terasa sepele, ungkapan ini bisa membuat perasaan lawan bicara menjadi terluka karena dianggap tidak serius. Setiap masalah memiliki nilai tersendiri bagi orang yang mengalaminya, meskipun tampak kecil dari luar.
Cobalah untuk mengakui bahwa setiap perasaan itu unik dan penting. Kamu bisa mengatakan, "Aku paham ini penting buat kamu, ayo kita cari solusi bersama." Dengan mengakui perasaan mereka, kamu membangun komunikasi yang lebih terbuka dan menunjukkan bahwa kamu benar-benar peduli.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah