JawaPos.com–Pengurus Vihara Dewi Welas Asih di Kota Cirebon melestarikan tradisi bersih rupang dan altar untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 Masehi. Kegiatan itu sebagai bentuk pelestarian warisan budaya.
Pengurus Vihara Dewi Welas Asih Romo Junawi mengatakan, kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun dalam rangka penghormatan kepada para dewa-dewi sekaligus persiapan menyambut pergantian tahun.
”Menjelang Imlek, umat mengadakan kerja bakti membersihkan rupang. Ini tradisi tahunan yang terus kami lestarikan,” kata Romo Junawi seperti dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan, di vihara tersebut terdapat 19 altar yang seluruhnya dibersihkan secara menyeluruh oleh umat melalui kegiatan gotong royong. Tradisi bersih rupang tidak sekadar membersihkan secara fisik, tetapi memiliki makna spiritual sebagai simbol penyucian diri.
”Pembersihan ini bentuk penghormatan. Kami meyakini setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan membawa berkah, kebahagiaan, kedamaian, dan kelancaran,” ujar Romo Junawi.
Selain pembersihan, kata dia, umat di vihara tersebut melakukan pergantian jubah pada rupang tertentu sebagai bagian dari rangkaian ritual menjelang Imlek. Setelah prosesi tersebut, rupang kembali ditempatkan seperti semula dan digunakan dalam ibadah rutin sebagaimana biasanya.
Junawi menyampaikan, puncak perayaan Imlek di vihara tersebut, akan diisi dengan doa dan sembahyang bersama seluruh umat. Umat di Vihara Dewi Welas Asih Cirebon diimbau untuk tetap menjalankan tradisi bakti kepada orang tua masing-masing.
”Orang tua sangat berjasa dalam kehidupan anak-anaknya, sehingga momentum Imlek juga menjadi saat untuk memperkuat bakti,” terang Romo Junawi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon Agus Sukmanjaya menilai tradisi di Vihara Dewi Welas Asih menjadi salah satu keunikan budaya yang dimiliki daerah. Cirebon dikenal sebagai kota dengan perpaduan budaya yang kuat, mulai dari unsur Tionghoa, Jawa, Sunda hingga Arab, yang hidup berdampingan secara harmonis.
Dia berharap pelestarian tradisi ini dapat terus dijaga sekaligus memperkuat citra Cirebon, sebagai kota yang rukun dan toleran. Tradisi seperti ini menunjukkan kekayaan budaya Cirebon yang tumbuh dari akulturasi.
”Ini bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya kota,” tandas Agus Sukmanjaya.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah