JawaPos.com–Sejumlah tokoh veteran, pegiat budaya, dan masyarakat, di Kota Cirebon menggelar refleksi sejarah di Tugu Pensil. Kegiatan itu untuk mengenang peristiwa pembacaan naskah pra-proklamasi kemerdekaan yang terjadi pada 15 Agustus 1945.
Pegiat budaya dan sejarah Cirebon Prabu Diaz mengatakan, kegiatan ini digelar di lokasi yang diyakini menjadi tempat tokoh bernama dr. Sudarsono membacakan teks proklamasi kemerdekaan karya Sutan Sjahrir.
”Tokoh pejuang dari Cirebon itu membacakan naskah proklamasi dua hari sebelum proklamasi resmi di Jakarta,” kata Prabu Diaz.
Dia menuturkan kegiatan refleksi mulai digagas pada 2017 oleh komunitas sejarah di Kota Cirebon setelah menemukan arsip Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang memuat catatan peristiwa tersebut. Peringatan ini menjadi kebanggaan warga karena mempertegas peran Cirebon sebagai salah satu pangkal perjuangan pendirian bangsa, sekaligus sarana mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
Diaz pun mendorong pemerintah daerah (pemda) memasukkan peristiwa pra-proklamasi ke dalam materi pendidikan sejarah di sekolah. Hal itu agar jejak perjuangan Cirebon tidak hilang dari ingatan masyarakat.
Sementara itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cirebon Buntoro Tirto mengatakan, refleksi di Tugu Pensil telah dilaksanakan rutin sebagai upaya merawat nilai persatuan dan semangat kemerdekaan.
Dia menjelaskan Tugu Pensil menjadi simbol perjuangan rakyat Cirebon pada masa kemerdekaan. Sehingga dipilih sebagai lokasi kegiatan untuk menguatkan pemahaman sejarah kepada masyarakat.
Buntoro menyebut kegiatan yang digelar menjelang HUT ke-80 RI ini mencerminkan kesadaran masyarakat untuk meneruskan semangat perjuangan dan menjaga persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Dia menyampaikan menjaga nilai perjuangan tidak hanya dengan mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga dengan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya berharap refleksi pra-proklamasi dapat terus dilaksanakan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, sehingga sejarah tersebut tetap dikenal luas.
”Ini adalah sejarah yang membanggakan bagi Cirebon. Dengan merawatnya, kita memperkuat identitas daerah sekaligus kontribusi Cirebon bagi Indonesia,” ucap Buntoro Tirto.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah