Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Legenda Situ Sanghyang: Dari Istana yang Menghilang hingga Danau yang Misterius di Majalengka

Lania Monica • Sabtu, 3 Mei 2025 | 16:00 WIB

Situ Sanghyang (Dok. Google Images)
Situ Sanghyang (Dok. Google Images)
JawaPos.com - Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, terdapat sebuah danau yang dikenal dengan nama Situ Sanghyang. Menurut legenda masyarakat setempat, danau ini pada mulanya adalah istana kerajaan Talaga yang lenyap akibat penghianatan yang terjadi di kerajaan tersebut. Cerita ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan mitologi daerah ini, yang hingga kini masih menarik perhatian banyak orang, baik wisatawan maupun warga setempat.

Legenda Awal Mula Situ Sanghyang

Dilansir dari YouTube KratoN Segoro Channel, menyebutkan bahwa Situ Sanghyang terbentuk setelah istana kerajaan Talaga amblas ke dalam tanah. Hal ini terjadi akibat penghianatan yang dilakukan oleh Palembang Gunung, suami dari Simbar Kencana, anak perempuan dari Raja Talaga, Sunan Talaga Manggung. Palembang Gunung yang merupakan seorang patih di kerajaan Talaga, merasa iri dengan kemakmuran kerajaan tersebut dan berambisi menggantikan mertuanya untuk menjadi raja.

Palembang Gunung merencanakan pembunuhan terhadap Sunan Talaga Manggung dengan menyuruh seorang pembunuh bernama Centang Barang. Pembunuhan itu berhasil dilakukan, namun sebelum Sunan Talaga Manggung meninggal, ia mengutuk Centang Barang yang akhirnya menjadi gila dan mati dengan cara tragis.

Namun, keajaiban terjadi setelah pembunuhan tersebut. Istana Talaga yang berada di puncak kejayaan tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi sebuah danau. Danau tersebut kemudian dikenal dengan nama Situ Sanghyang, yang menurut masyarakat Sunda, 'situ' berarti danau dan 'Sanghyang' berarti menghilang, merujuk pada kejadian misterius yang mengubah istana menjadi danau.

Perebutan Tahta dan Kejatuhan Palembang Gunung

Setelah istana kerajaan Talaga menghilang, Palembang Gunung, yang kini merasa hampir menjadi raja, segera membangun istana baru di daerah Walang Suci, yang sekarang dikenal dengan Desa Kagok. Meskipun demikian, niatnya untuk memproklamirkan diri sebagai raja mendapat tentangan dari para pemuka kerajaan dan juga istrinya, Simbar Kencana. Mereka menginginkan anak laki-laki Sunan Talaga, yaitu Sunan Parung, untuk menjadi penguasa kerajaan.

Namun, meskipun ditentang, Palembang Gunung tetap diangkat sebagai raja sementara oleh para pemuka kerajaan. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Talaga berangsur-angsur jatuh ke dalam kemewahan yang hanya dinikmati oleh Palembang Gunung. Banyak rakyat yang merasa muak dengan kepemimpinannya yang hanya mementingkan harta dan kesenangan pribadi.

Simbar Kencana, yang akhirnya mengetahui bahwa suaminya, Palembang Gunung, adalah orang yang memerintahkan pembunuhan terhadap ayahnya, Sunan Talaga Manggung, merencanakan balas dendam. Pada suatu malam, dengan penuh amarah, ia menusukkan tusukan kepada suaminya yang sedang tertidur. Palembang Gunung pun tewas dengan luka mengerikan.

Kembalinya Sunan Parung dan Keputusan Simbar Kencana

Setelah kematian Palembang Gunung, Simbar Kencana yang sempat memerintah, merasa bahwa takhta kerajaan Talaga masih belum sepenuhnya miliknya. Ketika kakaknya, Sunan Parung, yang selama ini bertapa, akhirnya kembali ke istana, ia merasa heran karena istana yang dikenalnya telah menghilang dan berubah menjadi sebuah danau.

Simbar Kencana pun menceritakan segala peristiwa yang terjadi, termasuk perubahan istana menjadi danau yang kini dikenal sebagai Situ Sanghyang. Mendengar cerita itu, Sunan Parung pun memberi wasiat kepada Simbar Kencana agar ia bersedia menjadi ratu untuk menggantikan ayahnya, sementara Sunan Parung sendiri memilih untuk mengikuti jejak ayahnya yang tenggelam bersama istananya di dasar danau.

Editor : Candra Mega Sari
#danau #legenda #situ sanghyang #majalengka