Dilansir dari laman cirebonkota.go.id, Replika Pedati Gede di taman ini merupakan simbol kemajuan peradaban leluhur Cirebon. Pedati Gede asli, yang dikenal sebagai Pedati Gede Pekalangan, dibuat sekitar tahun 1449 oleh Pangeran Cakrabuana dan digunakan untuk menyebarkan agama Islam serta mengangkut material pembangunan masjid.
Pembangunan Taman Pedati Gede merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Cirebon dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Proses perencanaan dimulai sejak 2019, namun realisasinya baru terlaksana pada 2022 karena berbagai faktor, termasuk pandemi. Taman ini dibangun dengan mekanisme swakelola, melibatkan perencanaan hingga pelaksanaan yang cermat.
Sebelum dibangun, area taman ini hanya berupa median jalan seluas 300 meter persegi tanpa penataan vegetasi. Kini, luasnya bertambah menjadi 900 meter persegi dan dilengkapi dengan berbagai vegetasi yang memperindah monumen tersebut. Penambahan ini menjadikan taman lebih nyaman untuk dikunjungi dan dinikmati oleh masyarakat.
Selain replika pedati, taman ini juga dilengkapi dengan taman bunga yang indah dan area duduk yang nyaman. Fasilitas tersebut memungkinkan pengunjung untuk bersantai sambil menikmati keindahan taman dan memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Taman Pedati Gede buka 24 jam setiap hari dan tidak mengenakan biaya masuk, sehingga menjadi destinasi yang ramah bagi semua kalangan. Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Tua memudahkan akses bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana sejarah Cirebon.
Pemerintah Kota Cirebon berharap taman ini dapat menjadi ruang terbuka yang nyaman dan tempat berinteraksi sosial bagi masyarakat. Wali Kota Nashrudin Azis mengimbau warga untuk menjaga dan merawat taman ini, menjadikannya sebagai simbol transformasi pembangunan yang berbasis budaya dan sejarah.
Dengan kehadiran Taman Pedati Gede, Cirebon menegaskan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah, sekaligus menyediakan ruang publik yang edukatif dan rekreatif bagi warganya.
Editor : Candra Mega Sari