Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

4 Tanda Red Flag Pasangan yang Sering Diabaikan demi Mempertahankan Hubungan Menurut Psikologi

Mohammad Maulana Iqbal • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:07 WIB
Ilustrasi red flag dalam hubungan (Magnific)
Ilustrasi red flag dalam hubungan (Magnific)

JawaPos.com - Jatuh cinta membuat seseorang cenderung melihat sisi terbaik pasangan dan mengabaikan tanda-tanda red flag yang ada.

Psikologi menjelaskan bahwa perasaan dalam hubungan baru sering membuat otak tertinggal jauh di belakang hati.

Perbedaan antara cinta sejati dan fantasi romantis menentukan apakah sebuah hubungan benar-benar bisa bertahan lama.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (16/7), inilah empat tanda peringatan besar yang sering terlewat oleh mereka yang terlalu fokus pada sisi baik pasangannya.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 10 Kebiasaan Orang yang Benar-Benar Bahagia

1. Selalu Punya Alasan untuk Membenarkan Perilaku Buruk

Pasangan yang bermasalah selalu memiliki penjelasan untuk setiap tindakan menyakitkan yang mereka lakukan kepada kamu.

Kelelahan, stres, masa kecil yang sulit, atau kesalahpahaman selalu menjadi perisai yang melindungi mereka dari tanggung jawab.

Ketika seseorang melihat pasangan bukan apa adanya melainkan siapa yang diinginkan, penilaian menjadi sangat kabur.

Penelitian di Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa otak yang jatuh cinta cenderung menciptakan versi ideal dari pasangannya.

Versi ideal ini tidak selalu mencerminkan siapa orang tersebut sebenarnya dalam keseharian yang nyata.

Alasan yang terus berulang adalah pola, dan pola selalu lebih jujur daripada kata-kata yang diucapkan seseorang.

Melihat pasangan secara objektif berarti bersedia mengakui bahwa ada perilaku yang tidak bisa terus dimaafkan.

Ketika pembenaran menjadi kebiasaan, hubungan bergerak di atas fondasi yang rapuh dan mudah runtuh.

2. Banyak Berjanji namun Jarang Menepatinya

Seseorang bisa mengucapkan semua kata yang tepat sambil tidak pernah benar-benar menunjukkan apapun melalui tindakannya.

Janji untuk menelepon, memperbaiki komunikasi, berhenti menyakiti, atau mulai serius tidak pernah terwujud nyata.

Pola janji yang terus berulang tanpa realisasi adalah pesan yang jauh lebih jelas dari kata-kata yang diucapkan.

Ketika seseorang membangun fantasi cinta di kepala, pasangan hanya berfungsi sebagai karakter yang mengisi peran tersebut.

Ekspektasi yang tidak ditantang menjadi musuh pertama dari cinta yang sesungguhnya dan berkelanjutan.

Penelitian di Review of General Psychology menunjukkan bahwa cinta nyata mencakup penerimaan terhadap kekurangan pasangan.

Melihat kelemahan pasangan dan tetap memilih untuk bersama adalah tanda cinta yang berakar pada kenyataan.

Cinta yang dibangun di atas harapan yang tidak terpenuhi hanya menunda kehancuran yang akan datang.

3. Lebih Sering Membuat Bingung daripada Memberikan Rasa Aman

Pasangan yang baik untuk kamu tidak seharusnya membuatmu terus bertanya-tanya di mana posisimu dalam hubungan.

Hangat di satu hari lalu dingin di hari berikutnya bukan dinamika yang sehat, melainkan tanda ketidakstabilan emosional.

Manis saat berdua namun abai di depan umum adalah kontradiksi yang perlu ditangkap dan dipertanyakan secara serius.

Kebingungan mungkin terasa seperti keseruan di awal, namun itu bukan cinta yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 8 Kebiasaan Perempuan Sukses Hadapi Menopause dengan Bahagia

Jika kamu mampu melihat seluruh sisi pasangan, termasuk mimpi, kelemahan, dan kebiasaan buruknya, perasaan itu bisa tumbuh.

Namun jika yang kamu lihat hanya versi yang kamu inginkan, hubungan tidak memiliki pijakan yang cukup kuat.

Penelitian di The Journal of Personality and Social Psychology mendukung bahwa pandangan yang parsial menghambat perkembangan cinta nyata.

Tidak mungkin mengetahui apakah seseorang benar-benar tepat jika gambaran utuh tentang dirinya tidak pernah terlihat.

4. Mengharapkan Dimaafkan Tanpa Benar-Benar Bertanggung Jawab

Ada perbedaan besar antara seseorang yang melakukan kesalahan, mengakuinya, dan berusaha berubah secara nyata.

Berbeda dengan seseorang yang menyakiti, meminta maaf, lalu mengulangi perilaku yang sama berulang kali tanpa henti.

Orang yang terlalu fokus pada sisi baik pasangan cenderung mengabaikan pola perilaku yang sebenarnya sangat jelas.

Baca Juga: 8 Hal yang Dilakukan Orang Menarik secara Berbeda saat Mengobrol Menurut Psikologi

Mereka mempertahankan pasangan sebagai pengisi peran ideal dalam hubungan yang hanya ada di dalam imajinasi mereka.

Cara mempertahankan hubungan seperti ini tidak membangun fondasi cinta yang sesungguhnya, melainkan hanya ilusi belaka.

Kekurangan dan ketidakcocokan yang diabaikan tidak menghilang, mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Pada akhirnya, realita akan berbenturan dengan fantasi dan hubungan pun mulai retak dari dalam tanpa peringatan.

Cinta yang nyata tidak membutuhkan pembelaan terus-menerus, melainkan penerimaan yang jujur terhadap siapa pasangan sebenarnya.

Editor : Candra Mega Sari
psikologi hubungan red flag jatuh cinta