JawaPos.com - Setiap generasi punya tantangan dan pengalaman unik yang layak dihargai, namun tak bisa dipungkiri bahwa kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini sangat berbeda dari yang dialami oleh generasi sebelumnya. Banyak alasan mengapa Gen Z tampak lebih menderita berasal dari kenyataan baru ini sebuah realitas yang tak pernah benar-benar dipikirkan atau dialami oleh generasi terdahulu.
Mulai dari tekanan media sosial hingga melonjaknya biaya hidup dan perubahan norma sosial, Gen Z menghadapi berbagai tuntutan yang tidak ringan. Setidaknya mereka pantas mendapatkan sedikit pengertian karena mampu bertahan di tengah situasi yang penuh gejolak ini.
Melansir dari laman Your Tango pada Rabu (07/05), berikut ini 11 alasan utama mengapa Gen Z dianggap lebih menderita dibanding generasi lainnya.
1. Tertindas oleh Budaya Perbandingan di Dunia Maya
Generasi Z tumbuh dalam dunia digital yang terus berkembang dan tidak lepas dari budaya membandingkan diri secara online. Mereka merasa tertekan untuk mengikuti gaya hidup influencer, menghabiskan uang demi citra, dan berjuang melawan harga diri yang menurun akibat paparan konten yang terlalu disunting dan tidak realistis.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjalani masa kecil tanpa beban media sosial, Gen Z terus-menerus dihadapkan pada tekanan untuk tampil dan hidup dengan cara tertentu yang dianggap ideal secara online.
2. Terlalu Lama Menatap Layar
Dengan semakin banyaknya pekerjaan jarak jauh dan gaya hidup digital, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan jadi kabur. Waktu di depan layar tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ini menimbulkan kelelahan, kesulitan menetapkan batas, dan berdampak pada kesejahteraan mental Gen Z.
Bahkan kebutuhan untuk tetap eksis di media sosial bisa memicu stres yang besar. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar alat, melainkan bagian dari gaya hidup yang sayangnya juga memperparah rasa lelah dan keterasingan.
3. Minim Pengetahuan Finansial
Studi menunjukkan bahwa Gen Z adalah kelompok yang paling rendah literasi keuangannya. Minimnya pemahaman soal keuangan membuat mereka kesulitan membuat keputusan finansial yang bijak, memperparah kecemasan ekonomi yang mereka hadapi. Ketidakpastian finansial berdampak besar pada kesehatan mental, dan banyak dari mereka merasa terjebak tanpa arah di tengah tuntutan hidup yang tinggi.
4. Tekanan untuk Hidup di Atas Kemampuan
Generasi Z juga mengalami tekanan untuk selalu terlihat sukses secara finansial. Tuntutan ini datang dari media sosial, keluarga, hingga masyarakat. Alhasil, mereka cenderung boros dan bahkan berhutang hanya demi tampil menarik di mata orang lain. Banyak dari mereka mengaku menghabiskan uang demi pamer, dan merasa terjebak dalam siklus konsumsi yang tak sehat.
5. Ketidakstabilan Ekonomi yang Menghambat Kemajuan
Berbeda dari generasi sebelumnya yang bisa segera mandiri setelah lulus sekolah, Gen Z harus bekerja ekstra keras mengambil pekerjaan sampingan dan berhemat besar-besaran hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Banyak dari mereka merasa pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi untuk sekedar hidup nyaman, apalagi merencanakan masa depan seperti memiliki rumah atau keluarga.
6. Kenyataan Tak Sesuai Janji yang Dulu Diberikan
Gen Z tumbuh dengan janji bahwa jika mereka menempuh jalur pendidikan dan kerja yang benar, mereka akan sukses. Namun kenyataan yang mereka temui justru sebaliknya, sulit mendapat pekerjaan layak, upah rendah, dan masa depan yang tampak suram. Mereka merasa dikhianati oleh sistem dan terjebak dalam jalur tradisional yang ternyata tak lagi menjamin kesuksesan.
7. Kecemasan Akan Masa Depan Bumi
Isu perubahan iklim menjadi sumber kecemasan besar bagi Gen Z. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung dampaknya melalui media sosial. Keterlibatan mereka dalam isu keadilan sosial dan lingkungan sangat besar, namun hal ini juga memicu stres, kecemasan, dan rasa kewalahan.
8. Kesehatan Mental yang Kian Memburuk
Gen Z jauh lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Baik karena tekanan sosial, kesulitan ekonomi, maupun isolasi, banyak dari mereka hidup dalam kecemasan dan depresi yang mengganggu semua aspek kehidupan mereka. Walau lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental, kenyataannya mereka tetap kesulitan mendapatkan dukungan yang benar-benar memadai.
9. Merasa Kesepian dan Terisolasi
Survei menunjukkan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling kesepian. Mereka kehilangan ruang sosial tradisional dan makin terdorong untuk mengisolasi diri di dunia maya. Bahkan banyak dari mereka memutuskan hubungan dengan keluarga karena konflik atau trauma yang belum selesai.
10. Kebingungan Identitas Diri
Di tengah arus informasi dan narasi yang terus mengalir dari media sosial, banyak dari Gen Z yang merasa kehilangan jati diri. Mereka sulit mengenal diri sendiri karena terus dibombardir oleh ekspektasi tentang siapa mereka “seharusnya” menjadi. Tekanan untuk membentuk citra tertentu justru menghalangi proses membangun identitas yang autentik.
11. Budaya Kencan Lewat Aplikasi yang Melelahkan
Aplikasi kencan yang awalnya menjanjikan kemudahan justru membawa dampak negatif. Mulai dari tekanan untuk tampil sempurna, perasaan tidak cukup menarik, hingga kecemasan sosial saat harus bertemu langsung, semua itu membebani generasi Z dalam membangun hubungan yang sehat. Alih-alih mendekatkan, aplikasi kencan seringkali justru membuat mereka semakin terisolasi dan tidak percaya diri.
Baca Juga: Olahraga Seru Favorit Gen Z, Inilah 4 Pilihan Tempat Poundfit di Cirebon
Editor : Candra Mega Sari