JawaPos.com - Pernah dengar pepatah "mulutmu harimaumu"? Di era media sosial seperti sekarang, seseorang dengan mudah membagikan apapun, mulai dari opini pribadi, masalah hidup, sampai hal-hal yang sangat intim. Tapi tahukah kamu, tidak semua hal perlu dan pantas untuk dibagikan?
Menurut para ahli, ada beberapa informasi yang justru lebih baik disimpan untuk diri sendiri. Bukan karena harus tertutup, tapi karena membagikan hal-hal ini bisa menimbulkan dampak negatif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dilansir dari laman Your Tango pada Minggu (6/4), ada 5 hal penting yang sebaiknya tidak diumbar ke sembarang orang, lengkap dengan penjelasan psikologis dan sosialnya. Yuk, jaga batasan, lindungi privasi, dan belajar bijak dalam berbicara.
1. Pendapat tentang tubuh orang lain
"Menjadi intim secara fisik dengan seseorang adalah hal yang sangat rentan," ujar psikolog Aline P. Zoldbrod.
Jika kamu menemukan sesuatu pada tubuh pasangan, teman atau kerabat sekalipun yang mengejutkan, membuatmu tidak nyaman, atau tidak sesuai harapan, simpanlah pendapat itu untuk dirimu sendiri.
Komentar negatif sekecil apapun dapat membekas di hati mereka dan meninggalkan luka emosional yang dalam dan bertahan lama.
2. Rahasia yang dipercayakan kepadamu
Saat seseorang berbagi rahasia, itu adalah bentuk kepercayaan yang sangat pribadi. Menurut terapis Gloria Brame, jangan pernah mengkhianati kepercayaan ini, bahkan kepada anggota keluarga. Entah itu soal kesehatan, masalah pribadi, kehamilan, atau perasaan tentang orang lain, semua informasi itu dibagikan hanya untukmu.
Sekali kamu menyebarkan informasi tersebut, hubungan bisa rusak, kepercayaan hancur, dan reputasi orang yang bersangkutan bisa terdampak. Bahkan rahasia kecil pun bisa menjadi pengkhianatan besar jika dilanggar.
3. Penilaian terhadap hubungan orang lain
Psikolog Sharon Saline menyarankan untuk menyimpan penilaian pribadi tentang hubungan orang lain. Ketika kamu mulai berpikir, "Seharusnya dia jangan sama si A" atau "Kenapa dia mau aja ya bertahan sama si A?", kamu secara tidak sadar menempatkan dirimu lebih tinggi dari mereka.
Alih-alih menghakimi, cobalah bersikap penasaran dan bertanya dengan pendekatan terbuka seperti "Apa yang bikin kamu bertahan B?", atau "Perasaan kamu ke dia gimana A?". Ini akan membangun koneksi, bukan jarak.
4. Kegagalan atau kemunduran sementara
Life coach Susan Allan mengatakan bahwa tidak ada kegagalan yang tidak bisa dipelajari. Jadi daripada membicarakan rasa takut, kecemasan, atau kekecewaanmu, lebih baik fokus pada tujuan dan keberhasilan yang sedang kamu bangun. Dengan begitu, kamu memancarkan harapan, bukan kelemahan.
5. Jumlah teman tidur yang pernah kamu miliki
Editor senior Aria Gmitter menegaskan bahwa satu-satunya orang yang perlu tahu jumlah teman tidurmu hanyalah terapis atau dokter. Topik ini sangat sensitif dan bisa memicu penilaian serta stigma sosial, bahkan jika jumlahnya nol. Orang lain bisa saja menggunakan informasi ini sebagai bahan gosip atau senjata untuk menyerang secara pribadi, apalagi dalam konflik atau perceraian.
Menjaga informasi ini tetap pribadi bukan berarti kamu menyembunyikan sesuatu, melainkan kamu sedang melindungi integritas dan harga dirimu.
Menjaga kerahasiaan tidak hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga tentang menghormati privasi orang lain. Tidak semua hal perlu diungkapkan terkadang, diam adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah