JawaPos.com - Tidak semua orang yang terlihat baik, jujur, dan dapat dipercaya benar-benar memiliki hati yang tulus. Beberapa orang hanya berpura-pura menjadi orang baik demi keuntungan pribadi.
Mereka pandai berkata-kata, melakukan hal-hal kecil yang tampak baik, dan menciptakan citra positif untuk menarik kepercayaan orang lain. Namun, psikologi mengungkap bahwa ada tanda-tanda tertentu yang bisa menunjukkan apakah seseorang benar-benar baik atau hanya sekadar berpura-pura.
Dilansir dari laman Geediting, Senin (03/3), berikut adalah tujuh tanda seseorang hanya berpura-pura menjadi orang baik menurut psikologi:
1. Mereka Bersikap Baik Hanya ketika Butuh Sesuatu
Orang yang benar-benar baik akan bersikap ramah dan peduli tanpa memandang situasi. Namun, jika seseorang hanya bersikap baik ketika mereka menginginkan sesuatu dari Anda, itu pertanda bahwa kebaikan mereka tidak tulus.
Coba perhatikan, apakah mereka hanya menghubungi Anda ketika membutuhkan bantuan? Apakah mereka tiba-tiba menjadi sangat ramah saat ingin meminta sesuatu? Jika ya, kemungkinan besar mereka hanya menggunakan kebaikan sebagai alat untuk memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi.
Psikologi menyebut ini sebagai bentuk transactional relationship—di mana seseorang hanya baik jika ada timbal balik yang menguntungkan mereka.
2. Mereka Tidak Pernah Mengakui Kesalahan
Salah satu tanda terbesar seseorang hanya berpura-pura baik adalah bagaimana mereka menangani kesalahan.
Orang yang benar-benar baik akan mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan berusaha memperbaikinya. Namun, seseorang yang hanya berpura-pura akan selalu mencari cara untuk menghindari tanggung jawab.
Mereka mungkin menyalahkan orang lain, memutarbalikkan fakta, atau bahkan mengarang alasan untuk melindungi diri sendiri. Jika seseorang selalu punya alasan untuk setiap kesalahan yang mereka buat, itu tanda jelas bahwa mereka tidak setulus yang terlihat.
3. Kebaikan Mereka Hilang saat Tidak Ada yang Melihat
Beberapa orang bersikap sangat ramah dan dermawan di depan umum, tetapi berubah menjadi pribadi yang berbeda saat tidak ada yang memperhatikan.
Fenomena ini disebut audience effect, di mana seseorang cenderung bersikap lebih baik saat mereka tahu sedang diamati. Jika seseorang hanya menunjukkan sikap baik saat ada orang lain yang melihat, kemungkinan besar kebaikan mereka hanyalah pencitraan.
Orang yang benar-benar baik akan tetap menunjukkan sikap positif tanpa perlu mendapatkan pengakuan atau pujian dari orang lain.
4. Mereka Memberi dengan Mengharapkan Balasan
Kebaikan sejati datang tanpa syarat, tetapi seseorang yang berpura-pura baik biasanya memberi sesuatu dengan harapan mendapatkan imbalan.
Mereka mungkin sering menawarkan bantuan, hadiah, atau pujian, tetapi nantinya akan mengingatkan Anda tentang hal itu dan membuat Anda merasa berkewajiban untuk membalasnya. Jika Anda tidak menuruti keinginan mereka, mereka mungkin akan merasa tersinggung atau bahkan membuat Anda merasa bersalah.
Kebaikan yang tulus tidak bekerja seperti ini. Orang yang benar-benar baik menolong tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.
5. Mereka Lebih Banyak Bicara tentang Kebaikan daripada Melakukannya
Beberapa orang sangat pandai berbicara tentang moralitas, kejujuran, dan kepedulian sosial, tetapi ketika tiba waktunya untuk bertindak, mereka justru tidak melakukan apa-apa.
Mereka mungkin sering berbicara tentang membantu orang lain atau berbagi postingan amal di media sosial, tetapi tidak pernah benar-benar berkontribusi atau bertindak nyata. Kata-kata itu mudah, tetapi tindakan memerlukan usaha.
Jika seseorang lebih banyak berbicara tentang kebaikan daripada benar-benar melakukannya, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka hanya ingin terlihat baik tanpa benar-benar menjadi pribadi yang baik.
6. Mereka Memperlakukan Orang Berbeda Berdasarkan Status
Salah satu tanda paling jelas dari seseorang yang hanya berpura-pura baik adalah bagaimana mereka memperlakukan orang berdasarkan status sosial.
Misalnya, mereka sangat sopan kepada bos atau orang-orang berpengaruh, tetapi bersikap acuh tak acuh atau bahkan kasar kepada pelayan restoran, staf kebersihan, atau orang-orang yang dianggapnya tidak memiliki kekuasaan.
Orang yang benar-benar baik memperlakukan semua orang dengan hormat, tidak peduli status sosial atau apa yang bisa mereka dapatkan dari orang tersebut. Jika seseorang hanya baik kepada mereka yang dapat memberikan manfaat, kebaikan mereka tidaklah tulus.
7. Mereka Selalu Memainkan Peran Sebagai Korban
Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan mereka, orang yang hanya berpura-pura baik sering memainkan peran sebagai korban.
Alih-alih mengakui kesalahan mereka, mereka akan mencari cara untuk membalikkan keadaan agar mereka terlihat sebagai pihak yang dirugikan. Mereka menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk memanipulasi orang lain dan menghindari tanggung jawab.
Jika Anda pernah menghadapi seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam setiap situasi, itu tanda bahwa mereka mungkin lebih peduli dengan citra mereka daripada kebaikan yang sebenarnya.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah